Jakarta, CNBC Indonesia - Turki telah mengambil langkah maju dalam kemandirian dan pengembangan militernya dengan meresmikan sistem pertahanan udara "Steel Dome", yang sepenuhnya dikembangkan di dalam negeri. Peresmian ini berlangsung saat Amerika Serikat (AS) juga sedang mengembangkan teknologi serupa, yang sebelumnya juga ada di Israel.
Aselsan, kontraktor pertahanan utama Turki, merilis rekaman yang menunjukkan sistem pertahanan udara terintegrasi Steel Dome, yang dirancang untuk mencegat rudal, drone, dan pesawat berawak pada berbagai ketinggian, Rabu (27/8/2025).
Sistem ini dilengkapi dengan peluncur bergerak, jaringan radar, dan sistem komando. Peresmian di Pangkalan Teknologi Golbasi milik Aselsan ini juga menandai peluncuran investasi pertahanan terbesar Turki, senilai US$1,5 miliar (Rp22,5 triliun).
Menurut perusahaan tersebut, GOKBERK, sebuah sistem pertahanan udara laser bergerak dalam proyek Steel Dome, telah diuji coba melawan drone FPV dan berhasil menetralkannya baik dengan serangan laser maupun electronic jamming. Sistem ini menggunakan pelacakan berbantuan AI untuk pertahanan yang cepat, hemat biaya, dan siap siaga 24 jam.
"Penyerahan elemen-elemen Sistem Pertahanan Udara Terintegrasi Multilapis yang akan melindungi langit negara kami dengan perisai teknologi dari segala jenis ancaman, dan akan bertugas siang dan malam demi keamanan tanah air kami, dilaksanakan dengan kehadiran Bapak Presiden kami, Tuan Recep Tayyip Erdogan," kata Aselsan.
Peresmian yang dihadiri oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan pada hari Rabu ini menandakan dorongan cepat Turki untuk mengembangkan kemampuan pertahanan dalam negeri dan menjadikannya negara terbaru yang mengerahkan sistem "dome" canggih untuk mempertahankan wilayahnya.
Ankara telah mengumumkan rencana pada Juli 2024 untuk membangun sistem Steel Dome-nya, dengan tujuan memiliki pertahanan udara dalam negeri yang sebanding dengan Iron Dome milik Israel. Turki dengan cepat memajukan kemampuan pertahanan dalam negerinya, mengembangkan pesawat, kapal laut, dan sistem rudal yang juga menarik minat dari luar negeri.
Erdogan mengatakan bulan lalu bahwa ekspor pertahanan Turki telah mencapai US$990 juta (Rp14,85 triliun), naik 129% dari tahun sebelumnya, dengan total penjualan Januari hingga Juli mencapai US$ 4,6 miliar (Rp69 triliun).
Turki tampaknya bergerak lebih cepat daripada AS dengan konsep "Golden Dome"-nya dan bergabung dengan negara-negara seperti Israel dengan Iron Dome. Namun, fokus Turki adalah pada pertahanan nasional, sementara konsep pertahanan berlapis milik Presiden AS Donald Trump bertujuan untuk melindungi tanah air AS dan pasukan yang dikerahkan di luar negeri.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article
Iran Sukses Bobol Iron Dome-Bikin Israel Hancur Lebur, Ini Rahasianya