Jakarta, CNBC Indonesia - Inggris, Prancis, dan Jerman (E3) resmi memulai proses 30 hari untuk memulihkan sanksi PBB terhadap Iran. Mekanisme "snapback" ini berpotensi menghantam sektor perbankan, energi, dan pertahanan Teheran.
Langkah tersebut diambil karena dugaan pelanggaran Iran terhadap perjanjian nuklir 2015. Kesepakatan itu awalnya membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi internasional.
"E3 berkomitmen untuk menggunakan setiap alat diplomatik yang tersedia untuk memastikan Iran tidak pernah mengembangkan senjata nuklir, termasuk mekanisme snapback," tulis mereka dalam surat ke Dewan Keamanan PBB yang dikutip Reuters, Kamis (29/8/2025).
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menegaskan diplomasi masih terbuka, sementara Menlu Jerman Johann Wadephul meminta Teheran segera bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta membuka perundingan dengan Amerika Serikat bulan depan.
Sementara itu, Iran merespons keras dengan menyebut keputusan Eropa "ilegal dan disesalkan". "Langkah ini menentang diplomasi, bukan kesempatan untuk itu. Iran tidak akan menyerah di bawah tekanan," kata seorang pejabat senior Iran.
AS menyambut baik keputusan E3. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan Washington siap berdialog langsung dengan Iran demi mencari "resolusi damai dan langgeng" atas masalah nuklir ini. Israel juga memuji langkah tersebut sebagai upaya penting melawan ambisi nuklir Teheran.
Namun Rusia dan China berbeda sikap. Keduanya mendorong perpanjangan kesepakatan nuklir selama enam bulan dan menekan semua pihak agar kembali ke meja negosiasi.
"Dunia berada di persimpangan jalan, antara diplomasi atau konfrontasi," ujar Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Dmitry Polyanskiy.
Ancaman sanksi baru semakin memicu frustrasi di dalam negeri Iran. Ekonomi yang kian tertekan dan perpecahan politik mendalam memperlihatkan jurang antara kubu garis keras yang mendesak konfrontasi, dan kelompok moderat yang masih berharap diplomasi bisa menyelamatkan situasi.
(luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Terus Maju Berdamai dengan AS, Ini Update Terbarunya