Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyoroti posisi bisnis waralaba lokal yang masih kalah saing pamornya dibandingkan merek asing. Menurutnya, persoalan utama bukan pada jumlah, karena data menunjukkan waralaba lokal sebenarnya lebih banyak dibandingkan yang berasal dari luar negeri.
Namun, dia mengakui gaung dan popularitas bisnis waralaba lokal belum sekuat merek internasional yang lebih sering terlihat dan lebih ramai diperbincangkan publik.
"Kalau menurut data yang terdaftar, (bisnis waralaba lokal) lebih banyak, masih banyak waralaba lokal dibanding waralaba asing. Tapi mungkin, ya kadang-kadang kalau saat berbicara tentang keusahaan, waralaba asing itu lebih ramai," ujar Budi dalam Opening Ceremony the 24th International Franchise, Licence, and Business Concept Expo and Conference (IFRA) 2025 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (29/8/2025).
Hal itu disampaikannya merespons Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar yang menyebut merek-merek waralaba asing asal China, Jepang, Korea Selatan, hingga Italia lebih mudah ditemukan ketimbang brand lokal.
"Memang kita nggak terlalu senang dengan keadaan kita. Jadi kalau kita lihat keadaan kita, ya saya nggak ikuti secara survei gitu, tapi secara estimasi saja pasar domestik kita tuh masih dikuasai oleh asing. 120-130 waralaba lokal kita, tapi yang asing tetap lebih banyak," ujar Anang dalam Opening Ceremony the 24th International Franchise, Licence, and Business Concept Expo and Conference (IFRA) 2025 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (29/8/2025).
Di mana Letak Masalah Waralaba Lokal?
Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja buka suara. Dia mengatakan, anggapan waralaba asing mendominasi mal-mal atau pusat perbelanjaan tidak bisa digeneralisasikan.
"Sangat tergantung dengan kelas pusat perbelanjaannya. Karena segmen pasar menjadi salah satu faktor kesuksesan suatu usaha di pusat perbelanjaan," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (29/8/2025).
"Waralaba lokal banyak didominasi oleh kelas menengah bawah sehingga tentunya akan sedikit ditemukan di pusat perbelanjaan kelas atas. Namun tidak demikian di pusat perbelanjaan kelas menengah bawah," kata Alphonzus.
Promosi Masif
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen PDN) Kementerian Perdagangan Iqbal Shoffan Shofwan menambahkan, salah satu faktor yang membuat waralaba asing lebih menonjol adalah strategi promosi mereka yang jauh lebih masif. Sementara itu, banyak pelaku waralaba lokal yang belum mampu mengimbangi cara branding maupun kekuatan pemasaran yang dilakukan pemain internasional.
"Maksud Pak Mendag, jika dibanding waralaba dalam negeri, promosi waralaba luar negeri lebih massif. Namun demikian, pemerintah terus mengadvokasi usaha waralaba di dalam negeri, antara lain melalui berbagai program fasilitasi promosi, pendampingan, serta mendorong inovasi agar bisa mengikuti tren dan selera pasar," jelas Iqbal kepada CNBC Indonesia.
Ia menuturkan, pemerintah telah berusaha memberikan ruang lebih besar bagi waralaba lokal untuk tampil. Salah satunya melalui dukungan fasilitas pameran berupa booth gratis.
"Salah satu bentuk dukungan pemerintah untuk memperkuat brand waralaba lokal, yakni dengan memberikan fasilitasi booth gratis dalam penyelenggaraan pameran bagi pelaku usaha yang telah memiliki STPW (Surat Tanda Pendaftaran Waralaba) seperti yang ada pameran IFRA ini," lanjutnya.
Selain itu, Kemendag juga menyiapkan program edukasi melalui pelatihan dan pendampingan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas serta daya saing pengusaha waralaba lokal.
"Pemerintah juga memberikan edukasi melalui program pelatihan dan pendampingan contohnya melalui Pendampingan Waralaba Nasional. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini para pengusaha waralaba lokal menjadi lebih siap dan kompeten," tutup Iqbal.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article
Waralaba Hooters Resmi Ajukan Bangkrut, Ini Penyebabnya