
Ketua Komite Medis RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Dr. Riza M. Nasution, Sp.B, membantah melakukan malapraktik terhadap Ratih Raynada (30 tahun). Ibu dari empat anak itu merupakan pasien yang menjalani operasi sesar dan tulang di RSUD Bekasi lalu lumpuh.
Riza memastikan prosedur operasi yang dijalankan rumah sakitnya telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Hal ini diyakini berdasarkan hasil audit internal rumah sakit.
"Kami melihat kembali semua prosedur dan SOP. Kami lakukan audit internal dengan memeriksa satu per satu data rekam medis. Pasien datang dalam kondisi emergency dengan indikasi gawat janin yang mengancam keselamatan ibu dan bayi. Operasi sesar saat itu adalah tindakan medis yang tepat,” kata Dr. Riza saat konferensi pers di RSUD Kota Bekasi, Selasa (1/7).
Terkait obat yang diberikan oleh dokter kepada pasien, Riza juga memastikan tidak ada yang kedaluwarsa. Pendataan obat juga sudah digital sehingga dapat dilacak penggunaannya.
"Obat-obatan kami tercatat secara komputerisasi. Untuk obat psikotropika, kami laporkan langsung ke Komite Bersama Keamanan Sediaan Farmasi (KBKS). Semuanya bisa dilacak lewat barcode. Tidak ada obat yang sudah kedaluwarsa minimal tiga bulan ke belakang,” tuturnya.
Jelaskan soal Anestesi

Riza juga menjelaskan soal bius yang disebut pasien tidak bekerja. Ratih sebelumnya mengaku masih merasakan sakit saat operasi sesar dilakukan.
Menurut Riza itu karena terjadi perbedaan persepsi dalam penilaian efek anestesi. Riza bilang saat dilakukan uji cubit, salah satu metode untuk mengecek efek bius, pasien tidak menunjukkan respons nyeri, sehingga dianggap siap untuk tindakan. Namun, ternyata saat pembedahan dilakukan kondisinya berbeda.
“Saat pembedahan dimulai ternyata di bagian bawah tubuh pasien belum sepenuhnya mati rasa. Dokter yang bertugas langsung menghentikan tindakan dan meminta anestesi umum dilakukan. Prosedurnya tetap berjalan sesuai standar," tutur Riza.
"Kami tegaskan, kami tidak melakukan tindakan medis secara brutal. Ini rumah sakit, bukan tempat menyakiti orang,” kata Riza.Penyebab Kelumpuhan

Riza mengatakan kelumpuhan yang dialami Ratih bukan karena malapraktik dari dokter RSUD Kota Bekasi, namun karena pasien memiliki sakit TBC tulang belakang. Sakit ini baru diketahui setelah pasien menjalani operasi sesar.
Awalnya, tutur Riza, Ratih datang ke RSUD Kota Bekasi dua bulan setelah operasi sesar dengan keluhan kebas dan lemah pada kedua kakinya. Setelah dilakukan pemeriksaan neurologi dan MRI, diketahui Ratih menderita TBC tulang belakang yang sudah parah.
TBC Tulang Ratih menyerang bagian leher, punggung, dan pinggang Ratih. Ini menyebabkan tulang serta penekanan pada saraf.
TBC tulang belakang memang dapat menghancurkan struktur tulang dan menekan saraf motorik. Kondisi ini berisiko menyebabkan kelumpuhan hingga kematian jika tidak ditangani dengan benar dan disiplin.
“Kami temukan ada kerusakan tulang yang cukup parah. Ada tiga titik yang hancur—cervical 6-7, torakal 7-11, dan lumbal 2-3. Ini yang menyebabkan gangguan fungsi gerak,” tutur Riza.
Ratih sempat dirawat intensif dan dilakukan tindakan pemasangan pen (implan) untuk menstabilkan tulang belakang, namun karena struktur tulang sudah sangat rapuh, pen tersebut bergeser.
Pada April 2025, dilakukan operasi kedua untuk mengangkat kembali implan yang bermasalah. Menurut Riza usai operasi tersebut pasien tetap dalam pengawasan dokter dan melakukan fisioterapi. Namun pemulihan pasien terbatas, salah satunya karena pasien tidak disiplin menjalani pengobatan TBC tulang belakang tersebut.
“Tuduhan bahwa pasien lumpuh karena tindakan operasi sesar itu tidak tepat. Kondisinya sangat dipengaruhi oleh TBC tulang belakang yang sudah lanjut dan tidak diketahui sebelumnya. Ditambah lagi kepatuhan minum obat yang kurang baik memperburuk prognosisnya,” jelas Riza.
Riza memastikan RSUD Kota Bekasi siap memberikan seluruh data medis kepada otoritas kesehatan atau hukum bila diperlukan untuk penyelidikan lebih lanjut. Mereka berharap kasus ini tidak dipahami secara sepihak dan menegaskan komitmen mereka untuk tetap profesional dan transparan.
Pengakuan Ratih

Sebelumnya Ratih mengaku mengalami lumpuh total usai menjalani operasi sesar anak keempatnya di RSUD Kota Bekasi pada September 2024. Ratih menduga dirinya jadi korban malapraktik.
Warga Kelurahan Padurenan, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi, menceritakan awalnya datang ke rumah sakit dalam kondisi baik dan normal. Namun saat menjalani operasi, ia mengaku biusnya tak bekerja karena masih merasakan sakit, termasuk saat pembedahan dilakukan.
“Awalnya saya masih bisa jalan sendiri, bahkan pas ke rumah sakit pun jalan kaki. Tapi saat operasi itu, saya masih sadar dan merasakan sakit saat disuntik bius. Saya teriak-teriak karena sakitnya luar biasa, tapi dokter hanya bilang ‘Angkat kaki’,” kata Ratih menceritakan kondisinya sambil terbaring.
Ratih mengaku anaknya lahir dengan normal, meski ia merasakan sakit yang cukup berat selama proses operasi itu.
Setelah menjalani operasi, hari itu Ratih masih merasa berat pada tubuhnya. Dokter saat itu menyebut hal itu hal normal pasca-operasi.
Setelah operasi, Ratih merasakan tubuhnya tak kunjung pulih dari efek bius. Bahkan beberapa bulan kemudian, ia mendatangi rumah sakit itu untuk mengecek keadaannya. Hasilnya, dokter mendiagnosis bahwa tulang belakangnya mengalami kerusakan dan menyarankan pemasangan pen logam.

Operasi pemasangan pen tulang belakang pun dilakukan. Alih-alih membaik, kondisinya semakin menurun. Rasa sakit menyebar ke seluruh tubuh, bahkan untuk duduk pun sulit dilakukan.
Ratih mengaku sudah konsultasi dengan dokter. Namun, ia bingung karena dokter yang menanganinya tidak hanya satu.
“Dokternya beda-beda. Yang operasi bukan yang kontrol, yang kontrol bukan yang pasang pen. Saya bingung mau konsultasi ke siapa. Pernah mau tanya ke dokter yang megang, tapi katanya konsultasi ke dokter lain. Semuanya jadi enggak jelas,” ujar Ratih.
Menurut keluarga, diagnosis yang diberikan oleh pihak rumah sakit kerap berubah-ubah. Mulai dari dugaan TB tulang, saraf terputus, hingga gula darah tinggi. Namun tak ada kepastian satu pun yang menjelaskan kenapa Ratih lumpuh usai operasi sesar.
“Awalnya cuma kaki yang sakit, tapi setelah dipasang pen, seluruh badan saya sakit. Awalnya masih bisa duduk, sekarang miring saja sakit. Rumah sakit seperti main tebak-tebakan diagnosis,” kata Ratih.
“Saya sempat dengar dokter bilang, ‘Kalau nggak dilihat masa kedaluwarsa obatnya’. Itu bikin saya makin takut. Sekarang saya hanya ingin bisa sembuh dan kembali mengurus anak-anak saya,” ujar Ratih.