
Paetongtarn Shinawatra, 38 tahun, baru-baru ini diskors dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Thailand oleh Mahkamah Konstitusi.
Ia diduga melakukan pelanggaran etika menyusul bocornya percakapan telepon dengan mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. Dalam percakapan itu, Paetongtarn dinilai tidak jujur dan dianggap melanggar standar etik yang diatur dalam konstitusi Negeri Gajah Putih.
Lantas, siapa sebenarnya Paetongtarn?
Dikutip dari AFP, Paetongtarn adalah pewaris salah satu dinasti politik paling berpengaruh di Thailand. Ia ditunjuk oleh Raja Maha Vajiralongkorn untuk membentuk pemerintahan pada Agustus lalu, hanya dua tahun setelah terjun ke dunia politik, mengikuti jejak ayahnya, Thaksin Shinawatra--mantan PM yang digulingkan dalam kudeta tahun 2006 dan kini tengah menghadapi dakwaan penghinaan terhadap monarki.
Dikenal juga dengan nama panggilan Ung Ing, Paetongtarn lahir di Bangkok pada 21 Agustus 1986 dan menempuh pendidikan manajemen perhotelan di University of Surrey, Inggris. Sebelum masuk politik, ia mengelola bisnis hotel keluarga dan sempat menjabat sebagai CEO dari jaringan properti mewah, termasuk Rosewood Bangkok.
Kariernya di industri perhotelan, ditambah selera fesyennya yang mencolok, menjadikannya ikon gaya di Thailand--sesuatu yang jarang terlihat dalam karier seseorang yang masuk ke dalam dunia politik di Negeri Gajah Putih itu.
Paetongtarn juga dikenal memiliki kekayaan pribadi yang besar. Dikutip dari The Guardians, Ia tercatat memiliki saham di beberapa properti dan koleksi barang mewah seperti 217 tas desainer serta 75 jam tangan eksklusif.
Kekayaannya pun tergambarkan dari pernikahannya dengan seorang pilot Pidok Sooksawas pada 2019. Mereka merayakan 2 resepsi pernikahan mewah: satu di ibu kota Thailand, dan lainnya di Hong Kong yang dihadiri oleh ayahnya yang saat itu sedang mengasingkan diri.

Karier politik Paetongtarn melesat cepat. Mengutip Bangkok Post, ia masuk pertama kali ke dunia politik pada 2021 setelah ditunjuk partainya, Pheu Thai, sebagai penasihat utama untuk urusan partisipasi dan inovasi.
Dari sana ia kemudian dicalonkan partainya untuk menjadi perdana menteri termuda Thailand pada 2023. Ia menjadi sosok ketiga penyandang nama Shinawatra yang memegang jabatan tersebut, setelah Yingluck Shinawatra yang menjabat PM pada 2011-2014.
Adapun selama kampanye 2023, Paetongtarn pun menjadi sorotan lantaran bertarung saat sedang hamil besar. Ia melahirkan anak keduanya hanya dua pekan sebelum hari pemilihan, dan menyebut bayi itu sebagai "kekuatan rahasia" yang membantunya melewati masa kampanye yang intens.
Meski partainya, Pheu Thai, hanya menempati posisi kedua dalam pemilu--kekalahan pertama bagi partai milik keluarga Shinawatra--mereka tetap berhasil membentuk pemerintahan lewat koalisi dengan partai-partai pro-militer, yang sebelumnya adalah lawan politik mereka. Paetongtarn kemudian mengambil alih kursi perdana menteri setelah Srettha Thavisin dicopot oleh pengadilan tahun lalu.
Namun, momentum politiknya kini goyah. Bocornya pembicaraan telepon dengan Hun Sen memicu tuduhan pengkhianatan, penolakan dari sejumlah partai koalisi, dan gelombang protes di jalanan.
Kini, Paetongtarn menghadapi ujian terberat dalam kariernya: membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri tanpa bayang-bayang pengaruh ayahnya, memulihkan kepercayaan publik, dan menjaga stabilitas politik di tengah krisis legitimasi.