Kendaraan taktis (rantis) milik Korps Brigade Mobil (Brimob) Polri menjadi sorotan usai terlibat dalam insiden yang menewaskan seorang pengemudi ojek online (ojol) pada Kamis malam (28/8). Kendaraan antipeluru itu melindas hingga menewaskan pengemudi ojol bernama Affan Kurniawan.
Rantis Brimob merupakan kendaraan khusus yang dirancang untuk mendukung operasi taktis, termasuk pengendalian massa hingga misi keamanan berskala besar. Jenisnya pun beragam, masing-masing dengan fungsi dan peruntukan yang berbeda sesuai kebutuhan di lapangan.
Dari sisi harga, kendaraan ini memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan kendaraan sipil. Sebagai pembanding, Maung Pindad versi sipil yang memiliki spesifikasi lebih sederhana itu dijual di kisaran Rp 400 juta hingga Rp 600 juta. Versi militer yang digunakan aparat keamanan bisa dibanderol jauh lebih mahal karena dilengkapi teknologi dan fitur pertahanan tambahan.
Berdasarkan data dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), Polri tercatat mengalokasikan anggaran cukup besar untuk pengadaan dan pemeliharaan kendaraan taktis (rantis) pada tahun anggaran 2024.
Salah satu proyek terbesar yakni pengadaan Rantis Penghalau Massa untuk Korps Sabhara Baharkam Polri dengan pagu senilai Rp 199,74 miliar dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) sebesar Rp 199,739 miliar. Proses tender telah rampung pada Desember 2023 dengan sumber pendanaan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024.
Selain itu, terdapat pula pengadaan Rantis dan Ran Ops Brimob Polda Metro Jaya yang dikelola oleh SLOG Polri. Pagu yang dialokasikan mencapai Rp 29,23 miliar dengan HPS senilai Rp 29,228 miliar. Tender untuk proyek ini telah selesai pada Maret 2024.
Tak hanya pengadaan, Polri juga menganggarkan dana untuk pemeliharaan dan perawatan Rantis Satbrimob Polda Metro Jaya dengan nilai sebesar Rp 1,08 miliar, yang juga bersumber dari APBN 2024.