Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan belum ada rencana perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga, yang akan berakhir pada September 2025.
"Sampai dengan hari ini tidak ada pengajuan, dan kalau tidak ada pengajuan, saya anggap semuanya sudah baik," tegasnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (29/8).
Seharusnya, larangan ekspor konsentrat tembaga berlaku pada 1 Januari 2025. Namun, PTFI mendapatkan perpanjangan ekspor karena insiden kebakaran smelter Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur pada Oktober 2024.
Saat ini, Bahlil menyebutkan progres penyelesaian smelter tersebut sudah mencapai 80 persen. "Sudah 70-80 persen, sudah maksimal," ungkapnya.
Adapun PTFI mendapatkan izin ekspor konsentrat tembaga dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) yaitu sejak 17 Maret 2025 sampai 16 September 2025. Volume ekspor yang diberikan sebesar 1.412.471 wet metrik ton (wmt).
Sebelumnya, Direktur Utama PTFI, Tony Wenas, menyebutkan pemerintah akan mengevaluasi kembali izin ekspor konsentrat tembaga perusahaan.
Tony mengatakan, saat ini smelter keduanya sudah mulai memproduksi 5.500 katoda tembaga, 12,5 ton emas, dan sekitar 20 ton perak. Diharapkan kapasitas produksi smelter mencapai 600.000 ton konsentrat tembaga pada akhr tahun ini.
"Kan akan dievaluasi oleh pemerintah, jadi sesuai dengan Kepmen-nya memang akan dievaluasi pada saat mau berakhirnya. Itu yang kita tunggu hasil evaluasi dari pemerintah," jelasnya saat ditemui di The Tribrata Jakarta Selatan, Rabu (27/8).
Namun, PTFI mengalami insiden terbaru pada smelter lamanya, PT Smelting, yang mengalami kerusakan pada fasilitas oksigen. Tony mengatakan, pabrik tersebut baru bisa beroperasi kembali pada September 2025.
"Lagi downtime karena maintenance, terus kemudian pabrik oksigennya yang ada di sebelah situ, yang dibutuhkan untuk operasi itu ada kerusakan, mungkin sekitar tanggal 7 September sudah bisa berproduksi lagi," ungkap Tony.
Dengan demikian, dia berharap pemerintah mengevaluasi kembali perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga sebelum berakhir di 16 September mendatang, agar pasokan tidak menumpuk karena tidak ada yang menyerap.
"Evaluasi kan dari kan laporan dari kita, karena ramp up produksi kita sudah sesuai dengan kurva sebelumnya yang kita sampaikan kepada pemerintah itu mulai dengan 40 persen, 50 persen, 60 persen, sekarang mendekati 70 persen," ujar dia.