
Israel menyatakan ketertarikannya untuk mencapai kesepakatan damai dengan negara tetangga, Lebanon dan Suriah.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintah ingin lebih banyak menghasilkan perjanjian normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab.
Dalam konteks ini, Suriah dengan pemerintahan barunya setelah Bashar al-Assad digulingkan dan gerakan Hizbullah di Lebanon yang semakin melemah.
"Israel tertarik memperluas lingkar perdamaian dan normalisasi [lewat] Perjanjian Abraham," kata Saar terkait Perjanjian Abraham yang ditandatangani Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko pada 2020 di masa jabatan pertama Presiden AS Donald Trump.
"Kami tertarik untuk menambahkan negara-negara seperti Suriah dan Lebanon, tetangga kami -- ke dalam lingkaran perdamaian dan normalisasi sambil menjaga kepentingan penting dan keamanan Israel," kata Saar dalam konferensi pers di Yerusalem, dikutip dari AFP, Selasa (1/7).

Hubungan Israel dan Suriah tegang karena Israel mengeklaim Tanah Tinggi Golan dan mendudukinya. Saar bersikeras bahwa dataran tinggi strategis yang direbut Israel dari Suriah pada 1967, kemudian dicaplok dalam sebuah langkah yang tidak diakui oleh PBB akan tetap menjadi bagian wilayah Israel berdasarkan perjanjian damai di masa depan.
Dengan digulingkannya Assad dari kekuasaannya pada Desember 2024, Israel mengerahkan pasukan ke zona demiliterisasi yang dijaga PBB di Golan. Israel juga meluncurkan ratusan serangan terhadap target militer di Suriah.
Sementara di Lebanon, pengaruh kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran sudah berkurang setelah saling serang dengan Israel sejak tahun lalu. Serangan itu dilakukan dipicu oleh serangan Israel terhadap Gaza.
Israel dan Hizbullah sepakat untuk gencatan senjata pada November 2024. Namun, Israel tetap menyerang Hizbullah meski telah menyepakati gencatan senjata.
Hingga saat ini, belum ada respons dari pejabat Lebanon atau Suriah terkait pernyataan Saar.
AS Dukung Normalisasi Hubungan Israel dengan Suriah dan Lebanon

Pada kesempatan terpisah, Duta Besar AS untuk Turki yang juga utusan khusus untuk Suriah, Tom Barrack, mengatakan presiden Suriah baru Ahmed al-Sharaa telah mengindikasikan tidak membenci Israel dan menginginkan perdamaian di perbatasan.
"Saya pikir itu juga akan terjadi dengan Lebanon. Ini merupakan keharusan untuk memiliki perjanjian dengan Israel," kata Barrack kepada kantor berita Turki, Anadolu.
"Semua orang kembali kepada Perjanjian Abraham, khususnya saat situasi di Gaza mereda," lanjutnya.
"Apa yang terjadi antara Israel dan Iran adalah kesempatan untuk kita menyatakan: 'Waktu habis. Mari kita ciptakan jalan yang baru'," ujarnya.
"Timur Tengah siap untuk dialog baru, orang-orang bosan dengan cerita yang itu-itu saja," pungkasnya.