Lampung Geh, Bandar Lampung – Produksi kopi di Provinsi Lampung tercatat masih di bawah 2 ton per hektare dari total luas areal 152.507 hektare pada 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung mencatat rata-rata produksi hanya 120.377 ton per tahun, meski sebagian petani binaan mampu menghasilkan hingga 3,5 ton per hektare berkat penerapan teknik budidaya intensif. Kepala Dinas Perkebunan Lampung, Yuliastuti menjelaskan, metode ini memungkinkan jarak tanam lebih rapat sehingga populasi pohon bisa meningkat dua kali lipat. “Jika sebelumnya rata-rata 2.000–2.500 batang per hektare, kini bisa mencapai 4.000 batang. Dengan asumsi satu pohon menghasilkan satu kilogram kopi, maka produksi dapat meningkat hingga 4 ton per hektare,” kata Yuliastuti, Kamis (29/8). Berdasarkan data BPS, dari total luas areal perkebunan kopi Lampung, sekitar 138.000 hektare merupakan tanaman menghasilkan, 6.800 hektare belum menghasilkan, dan 6.800 hektare masuk kategori tua atau rusak. Untuk mengoptimalkan produktivitas, Dinas Perkebunan menjalankan program peremajaan dengan metode sambung samping, serta mempercepat pertumbuhan tanaman muda agar lebih cepat berproduksi.
Sejalan dengan dukungan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, pemerintah juga menyiapkan demplot (lahan percontohan) sistem pagar di Lampung Barat dan Tanggamus sebagai model rujukan bagi petani. "Demplot ini dipadukan dengan penerapan pupuk organik, teknik pemangkasan, hingga metode panen petik merah untuk menjaga kualitas biji kopi," ungkapnya Ia juga menyebut, untuk mendukung pascapanen, pemerintah juga memberikan bantuan berupa terpal, grinder, dan huller agar hasil panen tidak lagi dijemur di atas tanah. Selain itu, upaya hilirisasi juga diperkuat melalui pelatihan roasting, pengemasan, serta perluasan akses pasar bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Menurut data BPS, nilai ekspor kopi Lampung pada 2025 mencapai lebih dari USD 400 juta dengan pasar utama Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa. “Dengan inovasi budidaya, peremajaan tanaman, dan penguatan hilirisasi, kami menargetkan peningkatan signifikan baik dari sisi volume maupun nilai ekspor kopi Lampung,” ujar Yuliastuti. Meski robusta tetap menjadi komoditas utama, Pemprov Lampung juga mulai mengembangkan arabika di Lampung Barat, khususnya di Kecamatan Sekincau yang berada di ketinggian 1.000–1.200 mdpl. (Cha)