Viral Kasus Raya, Banyak Gen Z Borong Obat Cacing untuk Dikonsumsi, Amankah?

3 hours ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustrasi cacing gelang. Foto: Istimewa

Belakangan ramai di media sosial soal generasi Z (Gen Z) memborong obat cacing untuk dikonsumsi. Hal ini menyusul kasus balita di Sukabumi, Raya, yang mengalami cacingan kemudian meninggal dunia akibat infeksi.

Menanggapi fenomena tersebut, dokter spesialis anak sekaligus pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, dr. Gina Noor Djalilah mengingatkan bahwa penggunaan obat cacing tidak bisa sembarangan.

Penggunaan obat cacing yang benar di Indonesia umumnya mengikuti panduan dari Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

"Pemberian obat cacing dapat diulang setiap 6 bulan sekali. Sedangkan untuk daerah non endemis, pemberian obat cacing harus diberikan sesuai indikasi dan sesuai pemeriksaan dokter dengan hasil pemeriksaan tinja positif ditemukan telur cacing atau cacing," kata Gina, dalam keterangannya seperti dikutip Basra, Jumat (29/8).

Menurutnya, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023, hasil survei di 40 desa pada 10 provinsi menunjukkan prevalensi infeksi cacing berkisar antara 2,2% hingga 96,3%. Angka ini paling banyak ditemukan pada anak usia sekolah 5-14 tahun.

"Indonesia dengan iklim tropis memiliki angka cacingan tinggi sebesar 28%, dipengaruhi oleh kebersihan, sanitasi, kepadatan penduduk, serta tanah yang lembab," jelas Gina.

Ia melanjutkan, fenomena berburu obat cacing ini bisa jadi dipicu oleh kekhawatiran yang dipicu pemberitaan yang beredar mengenai kasus cacingan di Sukabumi. Tak sedikit yang lantas mengkonsumsi obat cacing secara mandiri tanpa indikasi medis.

Padahal, menurut Gina, infeksi cacing itu tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas.

"Infeksi cacing ringan sering kali tidak menunjukkan gejala yang khas, melainkan hanya berupa kelelahan, kantuk, wajah pucat, dan malnutrisi," ungkapnya.

Infeksi cacing pada anak umumnya disebabkan oleh beberapa jenis cacing, salah satunya adalah cacing gelang. Cacing ini menginfeksi tubuh manusia melalui telur yang menempel pada sayuran atau buah yang tidak dicuci bersih.

Setelah masuk ke dalam tubuh, cacing gelang dewasa bisa tumbuh hingga 20-30 cm dan menghasilkan sampai 200.000 telur setiap hari.

"Keberadaan cacing ini dapat merusak lapisan usus halus dan memicu diare, yang pada akhirnya mengganggu penyerapan karbohidrat dan protein," katanya.

Ia menerangkan, cacing lain yang bisa menyebabkan infeksi adalah cacing cambuk. Cacing dewasa jenis ini bisa bertelur 5.000-10.000 butir per hari. Cacing cambuk menancapkan kepalanya ke dinding usus besar, yang mengakibatkan luka pada usus.

"Bila infeksinya sudah parah, penderitanya akan mengalami diare yang bercampur lendir dan darah," terangnya.

Selain cacing cambuk, ada juga cacing tambang yang bisa bertelur 15.000 hingga 20.000 butir per hari. Larva cacing ini bisa menembus kulit kaki, lalu masuk ke dalam aliran darah dan menuju ke usus halus, paru-paru, serta jantung.

"Infeksi cacing tambang dapat menyebabkan luka pada usus yang lebih dalam dan menimbulkan pendarahan yang lebih parah dibandingkan jenis cacing lainnya," tambah Gina.

Infeksi cacing tersebut dapat dicegah dengan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Sementara untuk waktu pemberian obat cacing sendiri, menurut Gina, bisa dimulai sejak anak berusia 2 tahun karena sudah mulai aktif bersentuhan dengan tanah.