Ujung Panah Tertua di Dunia? Artefak Batu 80.000 Tahun Ditemukan di Uzbekistan

2 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ujung Panah Tertua di Dunia? Artefak Batu 80.000 Tahun Ditemukan di Uzbekistan Fragmen mikropoint dan bilah kecil (bladelet) ditemukan di situs arkeologi Obi-Rakhmat, Uzbekistan.(Plisson et al., PLOS One, CC BY 4.0)

ARTEFAK batu berukuran kecil yang ditemukan di Uzbekistan. Artefak ini mungkin bisa jadi merupakan ujung panah paling tua yang pernah ditemukan, berdasarkan temuan penelitian terbaru.

Hingga kini belum dapat dipastikan apakah alat batu tersebut dibuat oleh manusia modern, Neanderthal, atau kelompok manusia  purba lainnya.

Para arkeolog menemukan artefak itu di situs Obi-Rakhmat, yang terletak di timur laut Uzbekistan. Pada penggalian sebelumnya, peneliti telah menemukan beragam alat batu, mulai dari bilah tipis dan lebar hingga bilah kecil yang dikenal sebagai bladelet. Namun, sejumlah batu kecil berbentuk segitiga, disebut mikrolit, sempat diabaikan karena banyak yang sudah dalam kondisi pecah.

Kini, dalam sebuah studi yang diterbitkan 11 Agustus di jurnal PLOS One, para peneliti berpendapat "mikropoint" ini terlalu sempit untuk dipasangkan pada apa pun selain batang mirip anak panah. Batu-batu itu juga memperlihatkan pola kerusakan yang sesuai dengan penggunaan sebagai ujung panah, kata Hugues Plisson, peneliti di Universitas Bordeaux, Prancis.

Mikropoint yang diperkirakan berusia sekitar 80.000 tahun ini mungkin merupakan ujung panah tertua di dunia. Diperkirakan sekitar 6.000 tahun lebih tua dibanding artefak berusia 74.000 tahun yang ditemukan di Ethiopia, ujar para peneliti.

Namun, para ilmuwan mengakui temuan ini pasti akan menimbulkan perdebatan.

“Busur dan batang panahnya sendiri tidak terawetkan, jadi wajar bila ada skeptisisme dari rekan-rekan,” kata Andrey Krivoshapkin, salah satu penulis studi sekaligus direktur cabang Siberia di Institut Arkeologi dan Etnografi Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.

Meski begitu, temuan ini menunjukkan teknologi senjata dan perburuan yang rumit sudah tersebar lebih luas secara geografis pada masa lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya, jelas Christian Tryon, arkeolog Paleolitik dari Universitas Connecticut yang tidak terlibat dalam penelitian ini. “Seperti biasa, kita sering meremehkan kemampuan nenek moyang kita.”

Siapa yang menciptakan artefak batu di Obi-Rakhmat masih belum pasti.

Pada penggalian tahun 2003, arkeolog menemukan enam gigi serta 121 fragmen tengkorak milik seorang anak berusia sekitar 9-12 tahun. Gigi yang ditemukan memiliki kemiripan dengan Neanderthal, sementara bentuk tengkoraknya menunjukkan ciri yang lebih samar. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan apakah anak tersebut termasuk dalam spesies manusia modern, atau mungkin merupakan hibrida antara Homo sapiens dengan Neanderthal maupun Denisovan.

Asia Tengah merupakan wilayah Neanderthal tempat dimana ini dibuat, kata Plisson. Namun, tidak ada bukti Neanderthal menggunakan ujung panah, catat studi tersebut. Para peneliti menyarankan artefak Obi-Rakhmat kemungkinan besar dibuat oleh Homo sapiens.

“Kemunculan populasi Obi-Rakhmat di Asia Tengah bertepatan dengan masa penyebaran manusia modern anatomis di Eurasia,” ujar Krivoshapkin. Para peneliti mengatakan migran itu mungkin berasal dari Levant, kawasan Mediterania Timur yang kini mencakup Israel, Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah, dan sekitarnya.

Saat manusia modern tiba, wilayah Obi-Rakhmat kemungkinan sudah dihuni kelompok lain seperti Neanderthal. Teknologi mikrolit ini diduga membantu mereka mendapatkan makanan di lingkungan baru.

“Penemuan kami membantu mengidentifikasi strategi subsistensi yang memungkinkan masyarakat Obi-Rakhmat bersaing dengan kelompok yang sudah lama beradaptasi dengan lanskap yang kami teliti,” kata Krivoshapkin.

Komunitas Obi-Rakhmat

Saat ini, para ilmuwan berusaha menelusuri kapan tepatnya komunitas Obi-Rakhmat pertama kali menetap di Asia Tengah. Mereka berharap bisa menemukan kaitan arkeologis maupun genetik dengan kelompok yang tinggal di Levant. Selain itu, para peneliti juga berencana meneliti lokasi-lokasi arkeologi lain di kawasan tersebut yang kemungkinan lebih tua, dan berpotensi mengungkap keberadaan ujung panah berusia lebih dari 80.000 tahun.

“Inovasi ini bisa saja muncul jauh lebih awal dan bertahan dalam jangka waktu panjang,” ujar Krivoshapkin.

“Akan luar biasa jika bisa menemukan lokasi perburuannya langsung,” kata Tryon. “Namun lokasi semacam itu sulit ditemukan di lanskap.” (Livescience/Z-2)

Read Entire Article