
ASTRONOM temukan butiran debu kosmik pembentuk planet di sekitar Nebula NGC 6302 (Kupu-kupu), sebuah sisa bintang mati yang berjarak 3.400 tahun cahaya dari Bumi. Temuan ini diperoleh melalui pengamatan James Webb Space Telescope (JWST) dan telah dipublikasikan pada 27 Agustus di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.
Selama ini, para astronom tahu bahwa planet terbentuk dari debu kosmik. Tapi, bagaimana debu itu mulai bergabung masih jadi misteri. Penemuan JWST di Nebula Kupu-Kupu membantu memperjelas proses awal tersebut, bahwa bahkan bintang mati pun bisa menghasilkan partikel besar yang berpotensi jadi bahan planet.
“Penemuan ini adalah langkah besar untuk memahami bagaimana bahan dasar pembentuk planet dapat menyatu,” ujar pemimpin penelitian dari Cardiff University, Mikako Matsuura.
Bintang Mati, Tapi Masih Melahirkan Bahan Planet
Nebula Kupu-Kupu terbentuk dari bintang mirip Matahari yang kehabisan bahan bakar. SPada saat itu, lapisan terluarnya terlempar ke angkasa, sedangkan inti bintang berubah menjadi katai putih dengan suhu ekstrem hingga 220.000 derajat Celsius. Nebula yang terbentuk memiliki bentuk mirip sayap kupu-kupu, terdiri dari dua lobus besar yang mengembang serta cincin debu di bagian tengah.
Para ilmuwan menemukan butiran debu berbentuk kristal di Nebula Kupu-Kupu. Ukurannya lebih besar dari debu angkasa pada umumnya. Hal ini menandakan bahwa debu tersebut sudah “tumbuh” cukup lama, kemungkinan karena suhu panas dari bintang mati di tengah nebula membantu mempercepat prosesnya.
“Kami bisa melihat adanya butiran mirip permata yang lahir di wilayah tenang sekaligus debu kasar yang terbentuk di area yang kacau, semuanya dalam satu objek,” jelas Matsuura.
Benturan Partikel Ciptakan Cincin Molekul di Tengah Nebula
Selain berhasil menemukan kristal kuarsa, teleskop James Webb juga mendeteksi keberadaan molekul berbasis karbon yang dikenal sebagai Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH). Di Bumi, molekul ini bisa ditemukan pada roti yang gosong atau asap kendaraan. Di luar angkasa, PAH ternyata banyak sekali jumlahnya dan diduga punya peran penting dalam proses lahirnya bintang, planet, bahkan mungkin kehidupan itu sendiri.
Di Nebula Kupu-Kupu, PAH ini terlihat berbentuk cincin datar, yang kemungkinan terbentuk ketika partikel panas dari bintang mati di tengah nebula bertabrakan dengan gas di sekitarnya.
Kematian Nebula jadi Kelahiran Planet Berikutnya
Meski keindahannya menakjubkan, cahaya Nebula Kupu-Kupu tidak akan abadi. Dalam puluhan ribu tahun mendatang, nebula ini akan memudar, meninggalkan debu kuarsa, PAH, dan molekul lainnya yang melayang di ruang angkasa.
Partikel-partikel itu pada akhirnya dapat bergabung dengan awan gas baru, menjadi bahan dasar lahirnya bintang dan planet generasi berikutnya. Artinya, berakhirnya kehidupan sebuah bintang justru dapat memicu lahirnya sistem bintang dan planet baru di alam semesta. (Space/Z-2)