Jakarta, CNBC Indonesia - Industri manufaktur atau pengolahan masih menjadi kontributor utama perekonomian Indonesia. Namun, pertumbuhannya stagnan di kisaran 4% selama satu dekade terakhir.
Tim ekonom Bank Mandiri mencatat, rata-rata laju pertumbuhan industri manufaktur selama paruh pertama tahun ini bahkan hanya 4,7%, meski kontribusinya terhadap perekonomian menjadi yang terbesar dibanding sektor usaha lain, yakni sebesar 18,7%.
"Kontribusi dari industri yang sangat besar, makanya kita jangan lupa juga mana sektor-sektor industri manufaktur yang memang memberikan ruang kepada penyerapan tenaga kerja dan juga kepada pertumbuhan ekonomi," kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro dalam acara Mandiri Macro and Market Brief 3Q25 Indonesia Economic Outlook, Kamis (28/8/2025).
Pada kuartal II-2025 pertumbuhan PDB manufaktur Indonesia sebetulnya berhasil mampu kembali ke level pertumbuhan 5%, yakni tepatnya 5,68%. Namun, berdasarkan sub sektornya, masih banyak yang tumbuhnya di bawah laju pertumbuhan 5%.
Di antaranya ialah sektor industri kertas yang tumbuhnya hanya 4,99% pada kuartal II-2025. Lalu, industri tembakau hanya mampu tumbuh 4,59%, industri tekstil dan produk dari tekstil tumbuh 4,35%, sedangkan industri elektronik hanya tumbuh 2,04%.
Industri furnitur malah tengah dalam kondisi kontraksi, yaitu minus 0,05%, industri alat angkutan minus 0,95%, industri karet minus 2,52%, dan industri kayu turun hingga 3,71%.
Sementara itu, mayoritas subsektor manufaktur lainnya mampu tumbuh cepat pada kuartal II-2025, di antaranya ialah industri mesin dan perlengkapan yang mampu mencapai pertumbuhan 18,75%, dan industri logam dasar tumbuh 14,91%.
Industri barang galian bukan logam tumbuh 10,07%, industri kimia dan farmasi tumbuh 9,39%, industri kulit tumbuh 8,31%, industri pengolahan lainnya tumbuh 7,13%, industri batubara dan pengilangan migas tumbuh 6,53%, serta industri makanan dan minuman tumbuh 6,15%.
Tim ekonom Bank Mandiri juga mencatat, berdasarkan pemetaan industri pengolahan secara keseluruhan, sebetulnya ada beberapa industri yang memiliki daya ungkit besar dalam perekonomian. Salah satunya ialah industri makanan dan minuman karena multiplier outputnya menjadi yang terbesar yakni 1,9 dengan jumlah tenaga kerja juga menjadi yang terbesar yakni 5,04 juta.
"Dan dengan proporsi ekspor 16,23%, ruang untuk mendorong di industri makanan dan minuman supaya berdampak kepada pertumbuhan ekonomi sangat besar," ucap Andry.
(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Menperin Beri Bocoran 'Pabrik Hijau' akan Mudah Dapat Pendananaan