
SIDANG Senat Meksiko, Rabu (28/8), berubah ricuh setelah salah satu anggotanya marah karena tidak diberi kesempatan berbicara. Insiden itu memuncak menjadi aksi saling dorong antara dua senator senior di akhir sesi yang membahas isu sensitif, termasuk kemungkinan intervensi militer Amerika Serikat di Meksiko.
Keributan bermula ketika Alejandro Moreno, ketua oposisi dari Partai Revolusioner Institusional (PRI), naik ke podium saat lagu kebangsaan dikumandangkan. Ia kemudian menarik lengan Presiden Senat Gerardo Fernández Noroña dari Partai Morena yang berkuasa, hingga keduanya terlibat adu dorong.
Situasi semakin panas ketika sejumlah orang mencoba melerai. Siaran langsung memperlihatkan seorang pria bersetelan jas terlihat hendak memukul Noroña, sementara Moreno mendorong seorang pria berbaju hijau hingga terjatuh. Belakangan, Noroña menyebut pria berbaju hijau itu merupakan stafnya, yang kemudian tampil di konferensi pers mengenakan penyangga leher dan perban di lengannya.
Melalui media sosial, Moreno menuduh partai penguasa sengaja mengubah agenda sidang untuk membungkam suara oposisi. Ia menegaskan bahwa Noroña lah yang lebih dulu melakukan aksi fisik dengan mendorongnya. “Itu bentuk pengecut, dan biar jelas: agresi pertama datang dari Noroña,” tulisnya.
Sebaliknya, Noroña menyalahkan kubu oposisi. Ia menuding mereka beramai-ramai menyerangnya dan bahkan mengaku mendapat ancaman pembunuhan dari Moreno. “Mereka akan berdalih bahwa ini kebebasan berekspresi. Tapi yang mereka lakukan jelas serangan,” ujarnya. Noroña juga berencana melaporkan Moreno ke pihak berwenang serta mengajukan usulan pengusiran sejumlah senator oposisi yang terlibat.
Kericuhan di parlemen Meksiko memang jarang terjadi, meski bukan yang pertama. Pada 2006, sempat terjadi perkelahian massal antaranggota parlemen jelang pelantikan Presiden Felipe Calderón setelah pemilu yang diperdebatkan. (CNN/Z-2)