
Fenomena harga mobil baru yang dibanderol lebih murah dibanding model sebelumnya menjadi perhatian pelapak mobil bekas. Pemikiran sederhananya begini, kalau harga baru lebih menggiurkan, buat apa beli yang bekas?
Penggawa showroom Indigo Auto, Yudy Budiman mengamini hal tersebut. Lebih panjang lagi, Yudy mengungkap kekhawatiran jangka panjang yang timbul dari fenomena harga mobil baru lebih murah dari sebelumnya.
"Saya pribadi kan hampir 30 tahun di industri otomotif. Memang kondisi ini bukan lagi roller coaster, kita mungkin dahulu tidak pernah mendengar ada mobil baru dengan fitur lebih lengkap tetapi harganya lebih murah," buka Yudy kepada kumparan, Senin (14/7).
Menurutnya apabila hal tersebut tidak mendapat perhatian dari pemerintah, maka berpotensi menciptakan ketidakstabilan pasar di kemudian hari. Ujung-ujungnya konsumen yang justru dirugikan.

"Baru tahun 2025 kali pertama terjadi. Jadi ini menurut saya unpredict dan kalau ini berkelanjutan ditambah tidak ada perhatian pemerintah, saya kira sangat berbahaya bukan hanya untuk industri, diler, atau ATPM, mobil bekas, tetapi untuk semua," imbuhnya.
"Jadi yang dirugikan nantinya ke masyarakat. Ada lagi juga katanya pabrikan Jepang, seumur-umur saya tidak pernah melihat adanya turun harga seperti itu, yang ada malah ajakan segera membeli sebelum harganya naik," jelas Yudy.
Honda dan Chery adalah sedikit contoh dari beberapa jenama yang melakukan strategi serupa. Model-model barunya di segmen yang cukup sesak seperti compact SUV, mengalami penyesuaian harga lebih rendah dibanding versi sebelumnya.
Meski, beberapa pabrikan berdalih adanya penyesuaian banderol tersebut tidak sesederhana perkara persaingan. Misalnya, ada kontribusi dari biaya atau ongkos produksi yang lebih efisien dibanding sebelumnya turut berpengaruh.

"Tapi sekarang, apalagi sejak ada merek China keluarkan produk nanti 3-4 bulan ke depan harganya malah turun. Bahkan ada yang turun harga dua sampai tiga kali, harusnya pemerintah ini antisipasi. Ibaratnya sekarang sudah seperti tidak ada ilmunya, sudah tidak bisa dipakai yang biasa dilakukan selama berpuluh-puluh tahun," kata Yudy.
Yudy tak menampik langkah tersebut mungkin bakal berdampak pada penjualan mobil bekas. Menurutnya, calon pembeli akan cenderung menahan pembelian dan menunggu harga model baru yang sekelas dengan unit bekas yang dicarinya.
"Mau sampai kapan? Kalau masyarakat memang ada kebutuhan (beli mobil) nanti adanya mereka justru berpikir (bakal ada potensi harga turun lagi), banyak lah contohnya. Makanya saya bilang ini terlalu roller coaster, kalau begini terus menurut saya semua jadi dirugikan dan tidak diantisipasi pemerintah. Kami sih khawatir, ya," tandasnya.