Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ekspor sepeda motor Indonesia terus menunjukkan tren positif.
Sepanjang Januari-Juli 2025, ekspor motor dalam bentuk completely knocked-down (CKD) dan completely built-up (CBU) mencapai 5.195.470 unit. Sementara ekspor part by part tembus 75.712.413 unit.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Dirjen IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, mengungkapkan industri otomotif Indonesia memiliki peluang besar untuk terus tumbuh, baik di pasar domestik maupun internasional.
“Dengan dukungan bahan baku yang terjamin, IKM memiliki kesempatan besar untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok industri otomotif dunia,” ujar Reni dari keterangan tertulis Kementerian Perindustrian, dikutip Jumat (29/8).
Reni merinci berdasarkan Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), kinerja ekspor motor CBU dan part by part bulan Juli mengalami penjualan tertinggi sepanjang 2025, masing-masing mencapai 50.042 unit dan 12.972.706 unit. Selain itu, ekspor completely knocked-down (CKD) tercatat sebesar 678.227 unit.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan Kemenperin berusaha meningkatkan daya saing IKM alat angkut dengan memperkuat rantai pasok industri otomotif nasional.
Upaya ini dilakukan melalui penguatan Material Center di lingkungan UPTD Pengembangan Industri Logam (PILOG) Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Menurutnya fasilitas ini menjadi pusat layanan penyediaan bahan baku logam bagi IKM, yang tidak hanya memastikan kualitas bahan, tetapi juga mempermudah akses dengan harga yang lebih bersaing.
“Melalui upaya strategis ini, kami optimistis, IKM alat angkut dapat semakin produktif, efisien, dan siap terintegrasi ke dalam jaringan industri otomotif nasional maupun global,” kata Menteri Perindustrian Agus,” kata Agus.
Reni menekankan, pelaku IKM komponen otomotif perlu bertransformasi mengikuti arah perkembangan industri otomotif global yang bergeser menuju kendaraan berbasis listrik. Ia berharap IKM di Purbalingga mampu melakukan inovasi dan bertransformasi menuju modern manufacturing dengan mengedepankan quality, cost, and delivery (QCD).
Lebih lanjut, Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut, Dini Hanggandari menyebut pemerintah telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan pemasok bahan baku logam nasional, seperti PT Hanwa Steel Service Indonesia, PT Tatalogam Lestari, dan PT Supra Teratai Metal guna memenuhi kebutuhan IKM di Purbalingga
Dini mengungkapkan pada 20 Agustus telah dilakukan pengiriman 8 ton material. Kemudian pada 21 Agustus tim tenaga ahli diturunkan untuk melakukan penataan layout, alur distribusi material, serta memastikan agar sistem pergudangan lebih produktif dan efisien.
Langkah selanjutnya, pemerintah akan memasang aplikasi Inventory dan Delivery menggunakan GPS Tracking untuk memantau pergerakan material secara real time. Melalui sistem ini, IKM diharapkan dapat mengurangi risiko keterlambatan, menekan biaya logistik, dan semakin percaya diri memasuki rantai pasok industri nasional.
“Harapan kami, model ini bisa direplikasi di berbagai sentra IKM lain agar semakin banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang mampu naik kelas dan bersaing di industri otomotif nasional maupun global,” ungkapnya.