
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami pelemahan usai naik (pullback) jangka pendek pada perdagangan Selasa (15/7). Pada perdagangan Senin (14/7) IHSG ditutup menguat ke level 7.097,15 atau naik 0,71 persen.
Analis Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan menjelaskan secara teknikal IHSG telah berhasil breakout dari rata-rata pergerakan 200 hari (MA200) di sekitar level 7.082. Namun, terdapat sinyal waspada dari indikator Stochastic RSI yang berada di area overbought serta meningkatnya volume jual.
“Meskipun demikian, indikator MACD masih menunjukkan momentum positif. Sehingga IHSG diperkirakan berpotensi pullback jangka pendek untuk menutup gap di sekitar level 7.055,” ujar Valdy dalam prediksinya.
Dari sisi global, pelaku pasar menantikan rilis data ekonomi penting dari Tiongkok dan Amerika Serikat pada hari ini. Di antaranya, pertumbuhan ekonomi Tiongkok kuartal II-2025 yang diproyeksikan melambat menjadi 5,1 persen year on year (yoy), dibanding 5,4 persen pada kuartal sebelumnya. Data penjualan ritel dan produksi industri juga diperkirakan melambat.
Sementara dari AS, fokus investor tertuju pada data inflasi konsumen (CPI) bulan Juni yang diperkirakan naik menjadi 2,7 persen yoy, serta core CPI yang diperkirakan naik ke 3 persen yoy.
“Dari domestik, investor masih menantikan perkembangan negosiasi lanjutan antara pemerintah dengan AS, yang diharapkan dapat mencapai kesepakatan sebelum batas waktu 1 Agustus 2025,” lanjut Valdy.
Selain itu, pelaku pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar Selasa-Rabu pekan ini. Konsensus pasar memproyeksikan penurunan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,25 persen. Musim laporan keuangan kuartal II-2025 yang akan dimulai pertengahan bulan ini turut menjadi perhatian investor.
Untuk perdagangan hari ini, Valdy merekomendasikan saham AKRA, LSIP, ENRG, HRTA dan JPFA sebagai e.
Sementara itu, analis MNC Sekuritas melihat bahwa penguatan IHSG saat ini sudah mendekati area target. Posisi IHSG diperkirakan berada di akhir wave (b) dari wave [b] pada label hitam, sehingga ruang penguatan diperkirakan terbatas di rentang resistance 7.150–7.177. Sedangkan pada label merah, IHSG masih memiliki peluang menguji resistance yang lebih tinggi di kisaran 7.240–7.476.
“Support IHSG berada di 7.049 dan 6.994, sementara resistance di 7.143 dan 7.191,” tulis analis MNC Sekuritas dalam risetnya.
Untuk saham pilihan, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness pada AKRA dan ANTM, serta speculative buy untuk MAPI. Di sisi lain, saham INCO direkomendasikan untuk sell on strength karena berpotensi terkoreksi setelah penguatan awal.
***
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.