PT MRT Jakarta (Perseroda) memperluas jangkauan rencana pembangunan MRT. Mulai dari jalur Timur-Barat yang menghubungkan Cikarang hingga Balaraja, jalur selatan yang diperpanjang hingga Serpong, serta jalur Fatmawati hingga Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Saat ini, MRT Jakarta tengah membangun MRT Fase 2A yang memperpanjang rute MRT yang sudah ada, dari Bundaran HI hingga ke Kota Tua. Rute ini akan dilanjutkan kembali pada Fase 2B hingga ke Ancol.
Jalur Lebak Bulus-Serpong
MRT Jakarta tengah mengkaji pembangunan jalur baru dari Lebak Bulus menuju Serpong. Jalur ini diproyeksikan akan melewati sejumlah kawasan permukiman strategis yang berpotensi menjadi simpul baru aktivitas warga di wilayah Jakarta dan Tangerang Selatan.
Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta, Farchad Mahfud, mengatakan proyek ini masih berada dalam tahap studi kelayakan. Ia menegaskan, hasil kajian tersebut akan menjadi dasar penentuan rute dan pendekatan teknis lainnya.
“Itu masih dalam studi. Masih dalam studi. Nanti kita nggak bisa bicara sebelum studinya selesai,” kata Farchad dalam MRT Jakarta Fellowship Program, dikutip pada Jumat (8/7).
Rencana pembangunan MRT Lebak Bulus-Serpong ini juga tercantum dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, khususnya dalam proyek pembangunan Jakarta Metropolitan Mass Rapid Transit Koridor Timur-Barat yang mencakup wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Pada 24 Juli 2025, MRT Jakarta resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pengembang properti Sinar Mas Land untuk melakukan studi kelayakan. Studi ini akan menguji apakah proyek bisa direalisasikan sepenuhnya lewat pendanaan swasta.
Selain itu, MRT Jakarta juga siap memulai pembangunan MRT jalur timur-barat (east-west line) yang menghubungkan Cikarang, Jawa Barat, hingga Balaraja, Banten. Jalur MRT ini akan dibangun sepanjang total 83,6 kilometer dengan 48 stasiun yang dibagi dalam dua fase:
Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Weni Maulina, mengatakan proses lelang proyek MRT jalur Cikarang-Balaraja akan dimulai akhir tahun 2025. Tender proyek ini akan dilakukan secara internasional, dengan kontraktor utama berasal dari Jepang.
"Saat ini, kami sedang dalam penyiapan tender kontraktor. Insya Allah, tahun ini kami lakukan market hearing untuk melihat kesiapan dari para kontraktor, dan announce tender-nya di akhir tahun ini," kata Weni dalam diskusi MRT Jakarta di Wisma Nusantara, Kamis (17/7).
Untuk tahap awal, pengerjaan akan difokuskan pada fase 1 tahap 1, yakni lintas Tomang ke Medan Satria sepanjang 25 kilometer. Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menyebut pengerjaan proyek direncanakan menggunakan skema campuran antara jalur layang dan bawah tanah.
Tuhiyat menambahkan, target penyelesaian proyek MRT Timur-Barat ini adalah pada tahun 2032. Namun, ada kemungkinan proyek ini akan dioperasikan secara bertahap sembari konstruksi berlanjut.
"Tahun depan kami melakukan konstruksi dari timur ke barat, Medan Satria sampai Tomang untuk selanjutnya diteruskan ke arah Kembangan. Ini kurang lebih sekitar 25 kilometer," kata Tuhiyat dalam konferensi pers di Stasiun MRT Lebak Bulus, dikutip Jumat (25/7).
Tuhiyat menambahkan, selain jalur utama Timur–Barat, MRT Jakarta juga tengah mempersiapkan rute baru yang menghubungkan kawasan Fatmawati dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Proyek sepanjang 11 kilometer ini akan sepenuhnya dibangun di bawah tanah dan memiliki 10 stasiun.