Iring-iringan pengemudi ojek online (ojol) mengantarkan jenazah Affan Kurniawan ke TPU Karet Bivak di Jakarta, Jumat (29/8/2025). Jenazah pengemudi ojol Affan Kurniawan yang meninggal dunia usai terlindas mobil rantis Brimob saat Aksi 28 Agustus 2025 itu dimakamkan di TPU Karet Bivak.
Oleh : DR Otong Sulaeman, Ketua/Rektor STAI Sadra periode 2024-2028
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Indonesia berduka. Nama Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang tewas tertabrak mobil rantis Polri ketika sedang mengantar makanan, kini bergema di jalanan dan ruang-ruang publik.
Affan bukan demonstran, bukan provokator, bukan lawan politik. Ia hanyalah seorang anak bangsa yang sedang bekerja mencari nafkah, namun nyawanya melayang karena kelalaian aparat yang tengah mengamankan aksi mahasiswa.
Tragedi ini mengguncang rasa keadilan kolektif. Di berbagai kota, demonstrasi meluas; mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan, tidak hanya memprotes keistimewaan DPR yang menetapkan tunjangan rumah Rp50 juta per bulan di tengah kesulitan ekonomi rakyat, tetapi juga menuntut tanggung jawab atas kematian seorang rakyat kecil yang tidak bersalah.
Seolah seluruh luka bangsa tumpah dalam satu momentum: ketidakadilan ekonomi, keserakahan elite, dan kegagalan negara melindungi warganya.
Di titik ini, kita semua sepakat: fokus utama adalah keadilan bagi rakyat Indonesia. Rasa kehilangan keluarga Affan, rasa marah mahasiswa yang merasa dikhianati wakilnya, rasa getir buruh yang bekerja keras dengan upah minimum sementara DPR hidup dengan privilese.
BACA JUGA: Smotrich Siap Bangun Bait Suci, Terompet Sangkakala Mulai Ditiup di Masjid Al-Aqsa, Ya Rabb...
Semuanya adalah realitas yang tidak boleh diabaikan. Kepedulian kita pertama-tama dan terutama adalah untuk bangsa ini.
Namun, justru dari kedalaman empati itulah kita bisa memahami lebih luas: bahwa penderitaan rakyat kecil ternyata memiliki wajah yang sama di banyak tempat di dunia.
Affan di Indonesia mengingatkan kita pada anak-anak Gaza yang kehilangan nyawa bukan karena salah, melainkan karena hidup di bawah sistem yang tidak adil.