Kalau kamu tinggal di daerah perkotaan atau kawasan industri, pasti sudah tidak asing lagi dengan polusi udara di mana-mana. Selama ini kita diajarkan kalau polusi udara ini merusak paru-paru, jadi ada baiknya memakai masker untuk memfilter udara yang masuk ke tubuh. Tapi, pernah terpikir nggak, apa pengaruh polusi yang bertebaran di udara itu ke kulit?
Pengaruh polusi terhadap kesehatan kulit itu ternyata nggak bisa dianggap sepele, loh, Ladies. Dampaknya terhadap kulit mulai dari perubahan fungsi sawar kulit, stres oksidatif, sampai inflamasi. Polusi udara di perkotaan saat ini, seperti Jakarta, memiliki konsentrasi particulate matters (PM) yang cukup tinggi yakni PM2.5.
PM2.5 adalah konsentrasi massa partikel yang berukuran lebih kecil dari sekitar 2.5 mikron (atau mikrometer). Disebut juga sebagai partikel halus. Faktanya, ukuran partikel ini bahkan lebih kecil dari rambut, loh, Ladies.
Karena ukurannya yang super mini ini, sangat memungkinkan bagi PM2.5 untuk masuk ke pori-pori kulitmu dan menimbulkan berbagai permasalahan kulit yang signifikan. Di bawah ini adalah macam-macam pengaruh buruk polusi terhadap kesehatan kulit kamu.
Perubahan fungsi sawar kulit
Mungkin Ladies ada yang belum familiar dengan istilah sawar kulit. Sawar kulit atau skin barrier utamanya berada di lapisan terluar epidermis yang disebut stratum corneum. Nah, fungsi skin barrier ini ibaratnya body guard untuk kulit kamu.
Tugasnya mulai dari menghalangi kuman, alergen, dan zat kimia berbahaya masuk ke kulit kamu; mencegah kehilangan air berlebihan dari dalam kulit; dan menjaga keseimbangan kelembapan dan lipid kulit.
Kalau terjadi perubahan fungsi sawar kulit bagaimana jadinya?
Jadinya, kulit bisa jadi lebih kering, pecah-pecah, atau bahkan kasar. Lalu, meningkatkan iritasi dan risiko kulit untuk terinfeksi.
Stres oksidatif pada kulit itu ketika kondisi jumlah radikal bebas di kulit lebih banyak daripada kemampuan antioksidan tubuh untuk menetralisirnya. Radikal bebas ini datangnya bisa dari berbagai sumber, Ladies, polusi udara salah satunya.
Kalau kulit stres oksidatif maka lebih mudah bagi radikal bebas menyerang lipid, protein, dan DNA sel kulit. Jadinya, sawar kulit (skin barrier) pun melemah. Menurut Medical Director L'Oréal Dermatology Beauty Hansen Gandhi, kalau sudah begini bahaya jangka panjangnya adalah kulit bisa photoaging alias penuaan akibat sinar matahari.
“Polusi itu juga ada namanya stres oksidatif atau stres metabolik, itu pengaruhnya ke aging,” katanya di talkshow Halodoc x La Roche Posay x CeraVe di BAKU Jakarta pada Rabu (06/08).
Inflamasi itu respons alami ketika sistem imun kulit mengalami cedera, iritasi, atau serangan dari luar, termasuk polusi udara dan paparan sinar UV berlebihan. Akibatnya bisa terjadi kerusakan kolagen, flek, sampai risiko penyakit kulit kronis seperti psoriasis.
Stres metabolik ini sederhananya membuat metabolisme kulit terganggu, Ladies. Ini terjadi ketika kebutuhan energi sel kulit tidak seimbang dengan pasokan energi dan oksigen. Penyebabnya pun tak jauh-jauh dari paparan sinar U...