4 Alasan ChatGPT Tidak Boleh Jadi Terapis Mental

3 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
4 Alasan ChatGPT Tidak Boleh Jadi Terapis Mental ChatGPT bukan pengganti terapis. Simak 4 alasan mengapa AI berisiko jika dijadikan tempat curhat masalah kesehatan mental.(freepik)

CHATGPT bisa menjawab banyak hal, tetapi satu hal yang pasti, ia bukan pengganti bantuan kesehatan mental. Kasus bunuh diri seorang yang curhat pada ChatGPT menunjukkan betapa berbahayanya menjadikan chatbot sebagai terapis.

Sophie, 29, memilih curhat rencana bunuh dirinya ke ChatGPT. Namun, alih-alih mendapatkan pertolongan, ia justru berakhir tragis.

Kasus lain menimpa seorang remaja 16 tahun, Ia juga sempat membicarakan bunuh diri dengan ChatGPT sebelum ia meninggal

"Orang tersebut mulai memandang chatbot sebagai... mungkin satu-satunya entitas/orang yang benar-benar memahami mereka," kata Dr. Matthew Nour, seorang peneliti di departemen psikiatri di Universitas Oxford. "Jadi, mereka mulai mencurahkan semua kekhawatiran dan pikiran mereka yang paling meresahkan kepada chatbot, mengabaikan orang lain.”

Walau AI mampu memberikan jawaban dengan cepat, ia tetap tidak memiliki empati, rasa aman, maupun kepekaan layaknya manusia. Para ahli menegaskan, risikonya justru jauh lebih besar daripada manfaatnya.

4 Alasan ChatGPT Tidak Bisa Jadi Terapis

Berikut empat alasan mengapa ChatGPT sebaiknya tidak dijadikan terapis mental.

1. Chatbot Bisa Membentuk Lingkaran Umpan Balik Berbahaya

Chatbot seperti ChatGPT  menyesuaikan respons sesuai preferensi pengguna, sehingga menciptakan lingkaran umpan balik yang salah. Hal inilah yang memperkuat keyakinan negatif pengguna.

Sebagai contoh, seseorang yang merasa sendirian mungkin menerima respon yang memperdalam perasaan tersebut. Akhirnya, chatbot menciptakan ilusi pemahaman, padahal hanya memperkuat kesalahpahaman emosional.

2. Chatbot AI Gagal dalam Diskusi Panjang

ChatGPT dapat memberikan nomor hotline krisis di awal obrolan, namun dalam percakapan yang lebih panjang responsnya bisa menjadi tidak konsisten.

Chatbot tidak memiliki "teori pikiran" seperti terapis dan hanya mengandalkan informasi dari pengguna. Akibatnya, kesalahan kecil di awal percakapan bisa berkembang menjadi nasihat yang keliru.

Menurut Nour, chatbot berguna untuk saran umum atau pengingat harian, tetapi tidak layak dijadikan sarana utama kesehatan mental. 

3. Remaja dan Pasien Rentan Sangat Berisiko

Dr. Scott Kollins, psikolog anak dan kepala petugas medis di aplikasi perlindungan identitas dan keamanan daring Aura, menjelaskan bahwa remaja sangat rentan salah menafsirkan respon chatbot sebagai empati manusia. Faktanya, yang mereka operasikan hanyalah sebuah sistem komputer. 

Riset Aura menunjukkan remaja menggunakan chatbot untuk dukungan emosional atau hubungan romantis. Hal ini berisiko memperburuk kesehatan mental dan membuat mereka semakin terisolasi dari dukungan nyata.

4. Cara Aman Untuk Mencari Bantuan Kesehatan Mental

Dr. Scott Kollins, menyarankan remaja mengecek daftar orang dewasa tepercaya sebelum menggunakan chatbot. Komunitas daring juga bisa menjadi ruang didengar, asalkan tetap mendapat dukungan nyata dan kebiasaan sehat.

Jika remaja belum merasa nyaman untuk curhat, menuliskan perasaan bisa menjadi langkah awal yang membantu. Tetap melibatkan orang terdekat juga penting, karena AI tidak selalu bisa diprediksi.

ChatGPT bisa membantu menjawab pertanyaan, tetapi tidak layak menggantikan terapis profesional. 

Jika merasa tertekan atau banyak pikiran, lebih baik berbicara dengan keluarga, teman dekat, atau tenaga profesional. Bantuan manusia jauh lebih aman dibandingkan chatbot. (Mashable/Z-2)
 

Read Entire Article