
PARA peneliti Tiongkok menyuntikkan partikel fosfor “afterglow” ke dalam tanaman sukulen. Partikel tersebut menyerap cahaya, lalu melepaskannya secara perlahan. Langkah itu untuk menciptakan tanaman bercahaya multicolor pertama di dunia, dengan cahaya biru, hijau, merah, dan biru-ungu.
Menurut studi terbaru, sukulen bercahaya ini dapat bersinar hingga dua jam, lebih lama dibandingkan tanaman bercahaya hasil rekayasa material sebelumnya. Penemuan ini membuka jalan bagi pencahayaan yang berkelanjutan berbasis tanaman untuk indoor maupun outdoor
“Bayangkan pohon yang menyala menggantikan lampu jalan,” kata penulis utama studi, Shuting Liu dari South China Agricultural University, dalam sebuah pernyataan. “Partikel itu menyebar hanya dalam hitungan detik, dan seluruh daun sukulen pun bersinar.”
Sebelumnya, para peneliti juga pernah membuat tanaman bercahaya, baik dengan rekayasa genetika maupun rekayasa material. Rekayasa genetika menggunakan gen bioluminesen yang dimiliki organisme tertentu, misalnya fitoplankton, tetapi gen ini hanya menghasilkan cahaya terbatas, umumnya hijau. Sementara rekayasa material melibatkan penyuntikan partikel pemancar cahaya ke daun tanaman, namun hanya menghasilkan cahaya redup.
Partikel Nano
Agar cahaya lebih kuat, partikel harus cukup kecil untuk bisa menyebar melalui jaringan tanaman, tetapi juga cukup besar untuk memancarkan cahaya yang terlihat. Percobaan sebelumnya menggunakan nanopartikel enzim luciferase dari kunang-kunang yang hanya menghasilkan cahaya redup yang memudar cepat dalam 30 menit.
Dalam studi baru ini, Liu dan timnya menggunakan partikel fosfor berukuran 6-8 mikrometer, kira-kira selebar sel darah merah manusia. Partikel berukuran mikro ini cukup besar untuk menghasilkan cahaya terang, namun tetap bisa bergerak bebas di dalam jaringan tanaman. “Partikel nano yang lebih kecil memang mudah bergerak di dalam tanaman, tetapi cahayanya lebih redup,” jelas Liu.
Partikel berukuran mikro ini berhasil bekerja pada tanaman sukulen, namun tidak efektif pada tanaman lain yang diuji, seperti sawi hijau (bok choy, Brassica rapa chinensis) dan sirih gading (Epipremnum aureum). Para ilmuwan memilih sukulen Echeveria “Mebina”, yang memiliki daun biru kehijauan dengan ujung berwarna merah. Berbeda dengan sawi hijau dan sirih gading, sukulen tersebut memiliki ruang antar-sel yang lebih longgar, sehingga partikel mikro dapat bergerak dan menyebar lebih mudah di dalamnya.
Para peneliti menyuntikkan partikel fosfor ke daun Echeveria “Mebina” lalu “mengisi daya” tanaman tersebut dengan cahaya matahari atau lampu LED dalam ruangan selama beberapa menit. Hasilnya sama: tanaman tetap bersinar. Partikel berwarna hijau menghasilkan sinar paling lama, hingga dua jam, dengan intensitas setara lampu tidur kecil.
Para peneliti berhasil membangun dinding tanaman berisi 56 sukulen bercahaya yang cukup terang untuk melihat benda di sekitar atau membaca tulisan dalam gelap.
“Saya merasa luar biasa melihat material buatan manusia berukuran mikro bisa berpadu begitu sempurna dengan struktur alami tanaman,” kata Liu. “Cara mereka berintegrasi terasa hampir menakjubkan.”
Pencahayaan Rendah Karbon
Menurut penelitian ini, sukulen bercahaya suatu hari nanti bisa menjadi solusi pencahayaan rendah karbon. Para peneliti berharap bisa menerapkan efek serupa pada jenis tanaman lain, yang dapat “diisi ulang” dengan sinar matahari layaknya baterai, lalu digunakan sebagai pencahayaan dekoratif maupun praktis.
“Proses ini sederhana, hemat biaya, dan bisa menghasilkan cahaya dalam waktu kurang dari 10 menit, membuka jalan bagi untuk pencahayaan praktis berbasis tanaman,” tulis para peneliti. (Livescience/Z-2)