PKK NTT dorong penanganan stunting berbasis pertanian terintegrasi.
REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG, – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menginisiasi inovasi penanganan stunting melalui pertanian organik terintegrasi yang dimulai dari halaman rumah. Inisiatif ini disampaikan oleh Gestianus Sino dari Bidang III Bagian Ketahanan Pangan PKK Provinsi NTT dalam rapat koordinasi daerah PKK se-NTT, Jumat.
Gestianus Sino menjelaskan bahwa pertanian organik terintegrasi memanfaatkan bahan makanan dari sumber organik, termasuk penggunaan pupuk dan pestisida bebas kimia. "Tujuannya supaya yang kita konsumsi dari sumber alami dan nutrisi lengkap sehingga bisa mendukung kesehatan masyarakat juga," ujarnya.
Dalam acara bertema "Kolaborasi Tim Penggerak PKK Mewujudkan NTT Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan", Sino juga menyoroti pentingnya pemanfaatan limbah dapur sebagai bahan baku berkebun di rumah. Ia mendorong setiap keluarga untuk memulai sistem pertanian terintegrasi dari halaman rumah mereka sendiri, seperti menanam di polybag, greenhouse, atau membuat kolam lele dengan sistem bioflok.
Ketua TP PKK Provinsi NTT, Mindriyati Astiningsih, menekankan perlunya sinergi dan kolaborasi antara PKK kabupaten/kota dengan program pemerintah daerah dalam pencegahan stunting. Rakor ini merupakan momentum evaluasi capaian program dan penyusunan langkah ke depan.
Sebelumnya, Gubernur NTT Melki Laka Lena menyebutkan bahwa prevalensi stunting di NTT pada tahun 2024 diperkirakan mencapai 61.961 anak, menurun dari 63.804 anak pada tahun 2023.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara