Rudi Ahmad Suryadi
Agama | 2025-08-29 10:29:12
Dalam kehidupan modern yang penuh dengan konflik, ketegangan sosial, dan hiruk pikuk persaingan, manusia selalu merindukan ruang hening bernama kedamaian. Tidak sedikit orang mencari kedamaian melalui berbagai cara: meditasi, wisata, bahkan kesunyian digital dengan mematikan gawai. Namun, bagi seorang muslim, kata “damai” tidak hanya hadir sebagai pengalaman psikologis, melainkan terpatri dalam jantung agamanya. Islam, sebagai sebuah nama agama, membawa pesan damai sejak akar katanya. Menariknya, Islam, salam, dan selamat memiliki satu benang merah yang bersumber dari akar kata Arab yang sama: salama (س ل م). Dari akar inilah tersusun makna yang kaya, menghubungkan agama, sapaan keseharian, dan doa keselamatan.
Akar Kata Salama
Dalam tradisi leksikografi Arab, hampir semua kata dapat ditelusuri pada akar tiga huruf yang menjadi pondasi makna. Untuk kata Islam, Salam, dan Selamat, ketiganya kembali pada akar kata salama yang terdiri dari huruf sīn (س), lām (ل), dan mīm (م). Ibn Fāris dalam Maqāyīs al-Lughah menjelaskan bahwa huruf-huruf tersebut merujuk pada makna dasar “keselamatan dan keterjagaan dari cacat” (Ibn Fāris, Maqāyīs al-Lughah, jilid III, hlm. 95). Dari makna dasar inilah berkembang berbagai derivasi kata: salām berarti kedamaian, islām berarti kepasrahan yang membawa keselamatan, dan salāmah berarti keadaan selamat.
Mu‘jam klasik lainnya, Lisān al-‘Arab karya Ibn Manzhūr, menambahkan bahwa salima berarti “terhindar dari keburukan” (Ibn Manzhūr, Lisān al-‘Arab, entri “سلم”). Dengan kata lain, kata ini tidak sekadar menunjuk pada keadaan aman fisik, tetapi juga mencakup ketenteraman batin. Sedangkan dalam al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān karya al-Rāghib al-Ashfahānī, akar kata salama dipahami sebagai lawan dari kerusakan, sehingga maknanya adalah “terbebas dari segala bentuk kekurangan” (al-Rāghib, al-Mufradāt, hlm. 236). Tiga mu‘jam tersebut secara konsisten menegaskan bahwa inti makna salama adalah keadaan utuh, damai, dan bebas dari ancaman.
Salam sebagai Kedamaian
Jika ditarik ke dalam kehidupan sehari-hari, kita akan menemukan kata “salam” yang begitu akrab di telinga. Seorang muslim ketika bertemu saudaranya diajarkan untuk mengucapkan “Assalāmu ‘alaikum”—semoga keselamatan tercurah atas kalian. Salam bukan sekadar sapaan formal, tetapi doa yang mendalam. Ia adalah ikrar kedamaian: bahwa penutur tidak membawa ancaman, melainkan menginginkan kebaikan bagi yang disapa.
Hadis Nabi Muhammad saw. bahkan menekankan salam sebagai jalan masuk ke surga. Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim). Salam, dengan demikian, bukan hanya etika sosial, tetapi instrumen spiritual untuk menumbuhkan cinta kasih dan harmoni.
sumber gambar:https://tebuireng.online/islam-rahmatan-lil-alamain-untuk-siapa/
Menariknya, makna salam ini konsisten dengan penjelasan mu‘jam Arab bahwa ia merujuk pada keadaan aman dan damai. Dengan kata lain, setiap kali seorang muslim menyapa dengan salam, ia sedang mewariskan inti makna akar kata salama ke dalam relasi sosialnya.
Islam sebagai Jalan Keselamatan
Kata “Islam” sendiri, secara etimologis, berasal dari bentuk aslama yang berarti “menyerahkan diri” atau “berserah diri” kepada Allah. Ibn Fāris dalam Maqāyīs al-Lughah menegaskan bahwa makna dasar ini terkait erat dengan keselamatan: siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah akan berada dalam penjagaan-Nya. Sehingga, Islam bukan sekadar nama agama, tetapi juga identitas jalan hidup yang mengarahkan manusia pada kedamaian eksistensial.
Al-Qur’an sendiri menegaskan dimensi keselamatan Islam dalam QS. Āli ‘Imrān [3]:19, “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.” Ayat ini menegaskan bahwa Islam bukan hanya sebutan bagi pengikut Nabi Muhammad, tetapi juga prinsip universal penyerahan diri kepada Tuhan sebagai jalan menuju keselamatan. Dengan demikian, Islam menyerap penuh makna dasar salama sebagai keterjagaan dari kerusakan spiritual maupun moral.
Dalam bahasa Indonesia, kata “selamat” diserap dari bahasa Arab salāmah. Penggunaan kata ini sangat luas: ucapan selamat ulang tahun, selamat pagi, hingga doa agar seseorang tetap selamat dari bahaya. Kata ini tidak hanya dipakai dalam ritual keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sosial sehari-hari lintas agama. Di sini terlihat bahwa makna kata salama melintasi batas ruang dan waktu, menjadi bahasa universal tentang harapan baik bagi sesama.
Ketika seseorang mengucapkan “selamat jalan,” ia sedang mendoakan agar perjalanan orang lain bebas dari bahaya. Saat seorang guru berkata “selamat belajar,” ia sedang mendoakan agar anak didiknya terbebas dari kebodohan. Kata ini, meski mengalami proses adaptasi bahasa, tetap mempertahankan inti makna aslinya: keterjagaan dari segala keburukan.
Benang Merah: Islam, Salam, Selamat
Jika kita satukan ketiga makna tersebut, jelaslah bahwa semuanya berpangkal pada akar kata yang sama. Islam adalah agama yang mengajarkan penyerahan diri untuk mencapai keselamatan; salam adalah sapaan yang menyebarkan kedamaian; dan selamat adalah doa untuk keterjagaan dari keburukan. Semuanya berpusat pada nilai damai, aman, dan terhindar dari kerusakan.
Dalam konteks sosial kontemporer, pesan ini terasa sangat relevan. Dunia yang diwarnai konflik, polarisasi, dan intoleransi sangat membutuhkan kehadiran nilai-nilai Islam yang sesungguhnya: menghadirkan salam dan memberikan rasa selamat. Ketika umat Islam benar-benar menjiwai akar kata agamanya, ia akan tampil bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai sumber rahmat bagi semesta.
Akar kata salama dengan huruf س ل م yang melahirkan kata Islam, salam, dan selamat, memperlihatkan kesatuan makna yang indah. Islam adalah jalan menuju keselamatan melalui kepasrahan kepada Allah; salam adalah ekspresi kedamaian yang diucapkan kepada sesama; dan selamat adalah doa keterjagaan dari keburukan. Tiga mu‘jam Arab klasik—Maqāyīs al-Lughah Ibn Fāris, Lisān al-‘Arab Ibn Manzhūr, dan al-Mufradāt al-Rāghib—menegaskan bahwa inti makna kata tersebut adalah keselamatan, kedamaian, dan keterjagaan dari cacat.
Dengan memahami kesatuan makna ini, seorang muslim tidak hanya mengucapkan salam sebagai formalitas, atau menyebut dirinya Islam sebagai identitas, melainkan menghadirkan makna mendalam: menjadi pribadi yang membawa kedamaian dan keselamatan bagi orang lain
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.