Liputan6.com, Jakarta - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menganugerahkan Tanda Kehormatan Republik Indonesia kepada sejumlah tokoh nasional yang berjasa pada Senin (25/08/2025) lalu. Pemberian penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi negara atas dedikasi dan kontribusi luar biasa para penerima bagi bangsa dan negara.
Bintang kehormatan yang dianugerahkan meliputi Bintang Republik Indonesia Utama, Bintang Mahaputera Adipurna, Bintang Mahaputera, Bintang Jasa, Bintang Kemanusiaan, Bintang Budaya Parama Dharma, dan Bintang Sakti. Masing-masing bintang kehormatan diberikan kepada para tokoh sesuai dengan bidang jasa dan pengabdian mereka yang istimewa.
Di antara para penerima yang terdiri dari politisi hingga tokoh militer, terdapat deretan nama besar dari kalangan seniman dan budayawan tanah air, baik yang masih berkarya maupun yang telah wafat. Penganugerahan ini menjadi bentuk pengakuan dan apresiasi tertinggi dari negara atas dedikasi dan kontribusi mereka dalam memajukan kebudayaan dan seni di Indonesia.
Ada 5 nama artis besar yang mendapatkan Tanda Kehormatan Republik Indonesia dari Prabowo. Siapa saja mereka?
1. Christine Hakim
Herlina Christine Natalia Hakim, atau Christine Hakim, adalah seorang legenda dalam dunia perfilman Indonesia yang reputasinya telah mendunia. Lahir di Jambi pada 25 Desember 1956, ia memulai debut aktingnya dalam film Cinta Pertama (1973) arahan Teguh Karya. Sejak saat itu, kariernya terus menanjak dan terus mendapat tawaran menjadi pemeran utama perempuan dalam film-film berkualitas karya sutradara ternama.
Christine Hakim dikenal karena totalitas dan kemampuannya dalam memerankan berbagai karakter kompleks dengan sangat meyakinkan. Peran-perannya dalam film ikonik seperti Tjoet Nja' Dhien (1988), Daun di Atas Bantal (1998), dan Pasir Berbisik (2001) tidak hanya menuai pujian kritis tetapi juga memperkuat statusnya sebagai aktris terbaik di generasinya. Kiprahnya di kancah internasional juga sangat gemilang, terbukti dengan keterlibatannya dalam film Hollywood Eat Pray Love (2010) dan serial HBO The Last of Us.
Dominasi Christine Hakim di ajang Festival Film Indonesia terbukti dengan koleksi Piala Citra yang ia miliki. Aktris legendaris ini tercatat sebagai salah satu pemegang Piala Citra terbanyak, dengan total 9 piala yang berhasil diraihnya. Kemenangan tersebut secara rinci terdiri dari 6 piala sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dan 3 piala sebagai Pemeran Pendukung.
Di luar akting, Christine Hakim juga aktif sebagai produser film dan juri di berbagai festival film internasional, termasuk Festival Film Cannes. Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Utama kepadanya adalah pengakuan negara atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia melalui seni dan budaya.
2. Slamet Rahardjo
Slamet Rahardjo Djarot adalah salah satu aktor dan sutradara paling berpengaruh dalam sejarah sinema Indonesia. Lahir di Serang pada 21 Januari 1949, ia memulai kariernya di dunia teater bersama kelompok Teater Populer pimpinan Teguh Karya. Bakat aktingnya yang luar biasa segera membawanya ke layar lebar, di mana ia membintangi film-film legendaris seperti Ranjang Pengantin (1974) dan Badai Pasti Berlalu (1977).
Tidak hanya berada di depan layar, Slamet Rahardjo juga menjajal kursi sutradara dan menghasilkan karya-karya yang diakui secara kritis, baik di dalam maupun luar negeri. Film-film arahannya seperti Kembang Kertas (1984), Kodrat (1986), dan Langitku, Rumahku (1990) sering kali mengangkat isu-isu sosial yang relevan dengan penceritaan yang kuat dan sinematografi yang puitis. Karya-karyanya telah berkompetisi di berbagai festival film internasional bergengsi, termasuk Festival Film Cannes.
Aktingnya yang mendalam dan sutradara yang penuh penjiwaan membuatnya meraih beberapa Piala Citra. Berikut daftar penghargaan Citra yang didapatkan Slamet Rahardjo.
- Pemeran Utama Pria Terbaik (1975) untuk Film Ranjang Pengantin
- Penata Musik Terbaik (1979) untuk Film November 1828 (bersama Franki Raden dan Sardono W. Kusumo)
- Pemeran Utama Pria Terbaik (1983) untuk Film Di Balik Kelambu
- Sutradara Terbaik (1985) untuk Film Kembang Kertas
- Film Cerita Panjang Terbaik (1985) untuk Film Kembang Kertas (sebagai sutradara)
- Sutradara Terbaik (1987) untuk Film Kodrat
- Pemeran Pendukung Pria Terbaik (2022) untuk Film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga
Kontribusinya dalam membentuk wajah perfilman Indonesia modern sangatlah besar, dan dedikasinya terhadap kualitas artistik menjadikannya salah satu maestro seni peran dan penyutradaraan di Indonesia. Penghargaan Bintang Budaya Parama Dharma yang diterimanya adalah pengakuan atas pengabdiannya yang panjang dan berkualitas bagi dunia seni.
3. Jaja Mihardja
Jaja Mihardja, lahir di Jakarta, 1 November 1944, merupakan figur seniman multitalenta yang sangat lekat dengan kebudayaan Betawi. Pria bernama lengkap Ja'un Sulaiman Miharja ini mengawali perjalanannya di dunia seni dari panggung tradisional lenong dan musik Betawi.
Puncak popularitasnya sebagai penyanyi dangdut diraih pada era 1980-an lewat tembang hits "Cinta Sabun Mandi," meski publik mungkin lebih mengenalnya lewat jargon khas "Apaan tuh?" yang kerap ia serukan saat memandu acara Kuis Dangdut.
Di luar panggung musik dan dunia presenter, Jaja Mihardja juga membuktikan kepiawaiannya sebagai seorang aktor berbakat di layar lebar maupun sinetron. Jaja Mihardja membintangi film Box Office Get Married bareng Meriam Bellina dan Nirina Zubir. Dalam Get Marri...