Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan adanya diversifikasi perdagangan atau trade diversion imbas peningkatan ketegangan akibat perang dagang China-Amerika Serikat (AS).
Menurut dia setelah kebijakan tarif impor Trump, China mencari negara tujuan ekspor baru, salah satunya Indonesia.
Faisol menuturkan imbas dari perang tarif itu membuat industri dibanjiri gelontoran produk impor dari China. Dua industri yang terdampak menurut Faisol yaitu industri agro, tekstil dan alas kaki.
“Januari hingga April (2025) Indonesia mencatat melonjakan impor produk agro dari Tiongkok sebesar USD 477 ribu meningkat sekitar 30 persen (dibandingkan periode yang sama pada 2024),” kata Faisol dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (2/7).
Pada saat yang sama, ekspor produk agro China ke AS justru turun USD 1,17 miliar atau sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lebih lanjut Faisol menjelaskan, ada tujuh komoditas industri agro yang menunjukan kenaikan impor pada periode tersebut. Pertama Harmonized System (HS) 03 Ikan, krustasea, dan moluska yang meningkat 105,4 persen menjadi USD 30,40 miliar pada Januari-April 2025 dari USD 14,80 miliar Januari-April 2024.
Kemudian HS 18 kakao dan olahannya yang mengalami kenaikan impor 104,11 persen menjadi USD 8,64 persen pada Januari-April 2025 dari USD 4,23 miliar Januari-April 2024.
Lalu importasi HS 09 kopi, teh, mate, dan rempah-rempah naik 53,42 persen jadi USD 14,9 miliar pada Januari-April 2025 dari USD 14,80 miliar Januari-April 2024.
Selanjutnya impor HS 48 produk kertas dan karton, serta barang-barang yang terbuat dari bubur kertas, kertas, atau karton naik 28,52 persen jadi USD 214,33 miliar pada Januari-April 2025.
Lalu pada periode yang sama impor HS 19 sereal dan produk olahan sereal, tepung, pati, atau susu, serta produk pastry naik 24,91 persen jadi USD 21,25 miliar.
Kemudian impor HS 44 produk kayu dan barang dari kayu, termasuk arang kayu naik 22,46 persen jadi USD 56,37 miliar. Terakhir impor HS 23 residu dan limbah dari industri makanan pakan ternak olahan naik 11,17 persen jadi USD 58,25 miliar yang juga naik pada Januari-April 2025.
“Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi kita pemerintah dan bangsa Indonesia untuk mencermati dampak dari trade diversion terhadap struktur impor nasional. Sekaligus peluang untuk memetakan potensi dan tantangan industri agro di dalam negeri,” jelasnya.
Selain itu, lanjut Faisol, diversifikasi perdagangan China dari AS ke Indonesia juga terjadi di sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki.
Kedua industri ini memang mengandalkan ekspor produk ke AS, masing-masing 40,6 persen dan alas kaki 34,2 persen dari total ekspor nasional kedua komoditas tersebut.
Terlebih sebesar 95 persen ekspor TPT ke AS adalah dalam bentuk produk jadi yang merupakan kategori ekspor industri padat karya dengan melibatkan banyak tenaga kerja.