REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Tahun ini kita telah melewati tanggal 1 Rabiul Awal, yang jatuh pada 25 Agustus 2025. Setiap kali bulan ini datang, umat Islam dari Sabang sampai Merauke pun sibuk dengan satu tradisi, yakni Maulid Nabi. Ada yang bikin lomba keagamaan, ada yang gelar pengajian akbar, dan ada juga yang menggelar tradisi khas daerahnya masing-masing untuk merayakan dan mendalami kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tapi di sudut-sudut lain, ada saja wajah-wajah masam yang selalu teriak: “Bid’ah! Sesat! Masuk neraka!”. Mereka sangat anti dengan istilah Maulid.
Ironisnya, orang-orang ini sering lupa, kalau mereka sendiri tiap tahun juga rayakan ulang tahun pernikahan, potong kue ultah anak, atau bikin syukuran saat beli motor baru. Itu nggak bid’ah, katanya.
Tapi giliran umat mau senang-senang mengenang kelahiran junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, langsung pasang muka kaku kayak batu nisan.
Ketua Aswaja NU Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Ma'ruf Khozin pernah bilang begini:
"Supaya tidak keberatan dengan istilah Maulid, anggap saja kami sedang kumpul-kumpul menyampaikan hadis tentang akhlak Nabi, perjuangan Nabi, dan kisah kehidupan Nabi."
Baiklah, mari kita bahas pelan-pelan, biar kepala nggak kepanasan. Jadi, apakah Maulid Nabi ada dalilnya? Oh tentu, bukan cuma ada, tapi banyak.
Mari kita intip beberapa dalilnya yang ditulis Alumnus Ponpes Gontor Putri, Ustadzah Fadillah Ulfa dalam bukunya "Amalan Sepanjang Tahun: Meraih Pahala di Bulan-Bulan Hijriah".
1. Nabi sendiri bikin “Syukuran”
Diriwayatkan Rasulullah SAW mengakikahkan diri beliau sendiri setelah diangkat menjadi nabi. Padahal kakeknya, Abdul Muthalib, sudah mengakikahkan beliau pada hari ketujuh kelahiran. Jadi, apa arti akikah kedua itu?
Ya jelas bentuk syukur atas kelahiran beliau. Kalau Nabi aja bikin syukuran, masa kita dilarang bersyukur atas kelahiran junjungan kita?
Menurut Ustadzah Fadillah, hal itu menunjukkan bahwa perbuatan Rasulullah tersebut merupakan salah satu bentuk kesyukuran beliau kepada Allah atas kelahiran beliau sebagai rahmat bagi semesta alam dan diturunkan syariat bagi umatnya.
“Oleh karena itu, kita sebagai umat diperbolehkan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran beliau dengan mengadakan majelis-majelis yang didalamnya khusus mengingat pribadi beliau yang mulia,” jelas jebolan Pondok Pesantren Modern Gontor Putri tersebut.
2. Alquran suka banget cerita kelahiran
Menurut Ustadzah Fadillah, di dalam Alquran juga telah menceritakan kisah kelahiran beberapa nabi sebelum nabi Muhammad SAW. Buka saja surat Al-Qashash, ada kisah lahirnya Nabi Musa. Buka surat Maryam dan Ali Imran, ada kisah lahirnya Nabi Yahya dan Nabi Isa.
Jadi, jangan sok-sokan bilang “ngapain repot-repot memperingati kelahiran Nabi?” Wong Alquran aja menceritakan dengan detail, dari sebelum lahir sampai jadi nabi.
3. Disuruh senang langsung oleh Allah
Allah sudah bilang jelas dalam QS Yunus ayat 58:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus ayat 58).
Dan rahmat paling besar itu siapa? Ya Nabi Muhammad SAW, seperti QS Al-Anbiya ayat 107: “Dan Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Jadi, bergembira dengan kelahiran Nabi itu bukan cuma boleh, tapi perintah langsung. Kalau masih ngeyel, ya orang itu memang anti-ayat mungkin.
Menurut Ustadzah Fadillah, perasaan gembira dan bahagia dengan kedatangan Rasulullah merupakan anjuran yang semestinya dilakukan kapanpun dan dimanapun. Namun, tuntunan itu semakin ditekankan setiap hari Senin dan setiap tahun, khususnya pada bulan Rabiul Awal karena memang momennya lebih tepat dan lebih sesuai.
4. Menghidupkan kenangan itu sunnah
Haji saja sebagian besar isinya menghidupkan kenangan masa lalu: sa’i mengenang Siti Hajar, jumrah mengenang Nabi Ibrahim, kurban mengenang Ismail.
“Bukankah kita melihat bahwa sebagian besar ritual ibadah haji juga merupakan salah satu bentuk menghidupkan kembali kenangan-kenangan serta momen-momen yang mulia?," kata Ustadzah Fadhilah.
Lantas kalau semua itu boleh, kenapa kenangan tentang kelahiran Nabi Muhammad dilarang? Jangan-jangan larangan ini lahir bukan dari dalil, tapi dari hati yang terlalu beku untuk merasakan cinta.
Jadi, masih mau teriak bid’ah tiap lihat orang bikin Maulid? Kalau iya, sebaiknya sebelum protes, coba cek dulu daftar bid’ah pribadi: pakai mikrofon di masjid, bikin jadwal pengajian via WhatsApp, sampai rebutan like di Facebook pakai hadis-hadis.
Pada akhirnya, Maulid bukan sekadar soal boleh atau tidak boleh. Ia adalah ekspresi cinta. Dan cinta itu, kata orang bijak, kadang tak perlu dalil panjang lebar. Tapi alhamdulillah, dalam kasus Maulid, dalilnya sudah segunung. Tinggal satu masalah, siapa yang mau jujur membacanya?