
INDONESIA kian menegaskan diri sebagai pemain besar dalam industri pusat data di Asia Tenggara. Dengan proyeksi ekonomi digital nasional yang bisa menembus US$365 miliar pada 2030, kebutuhan akan kapasitas data center terus melonjak seiring digitalisasi di hampir semua sektor, dari e-commerce hingga kecerdasan buatan.
Namun, meski potensinya besar, tantangan masih nyata. Saat ini kapasitas data center nasional baru menyentuh 500 MW, jauh dari ideal 2.700 MW.
“Agar ekosistem ini bisa tumbuh, insentif harus jelas dan kebijakan jangka panjang mesti konsisten. Investor perlu kepastian,” ujar Direktur Kebijakan dan Strategi Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Denny Setiawan, dalam dalam Focus Group Discussion bertajuk Peluang dan Tantangan Bisnis Data Center di Indonesia yang digelar Yeto Media Group di Jakarta, Jumat (29/8)
Denny menekankan bahwa insentif pajak bagi pelaku industri maupun pelanggan akan meningkatkan daya saing Indonesia di tengah ketatnya kompetisi dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Ia juga menyinggung perlunya perizinan yang lebih sederhana, serta dorongan agar pusat data tidak hanya menumpuk di Batam dan Jabodetabek.
“Lokasi yang dekat dengan titik pendaratan kabel laut akan lebih efisien, sekaligus membuka pemerataan pembangunan ke wilayah Barat, Tengah, hingga Timur Indonesia,” tambahnya.
Di sisi lain, isu energi juga menjadi sorotan. Pasokan listrik memang berlebih, tetapi tarif masih masuk kategori bisnis, bukan industri. Sementara itu, tren global mengarah pada penggunaan energi hijau sebagai daya tarik utama investasi.
“Data terintegrasi dan energi bersih adalah dua syarat agar roadmap pembangunan pusat data benar-benar efektif,” kata Denny.
Dari sisi industri, perubahan lanskap terlihat jelas. Associate Director Leads Property, Esti Susanti, menyebut lonjakan hyperscale, cloud, dan AI membuat peta data center Indonesia bergeser cepat.
“Investor membutuhkan kepastian lahan, dan kami ikut menghubungkan itu. Indonesia sedang menjelma jadi hub digital baru di Asia Tenggara,” ujarnya.
Chief Cloud Officer Lintasarta, Gidion Suranta Barus, menyampaikan, pihaknya mencoba menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan AI Factory yang dilengkapi GPU Merdeka dan Cloudeka.
“Infrastruktur sovereign AI ini bisa diakses startup, korporasi, hingga lembaga riset dalam negeri. Kehadiran pusat data lokal berbasis GPU adalah enabler strategis, agar inovasi AI tidak bergantung pada infrastruktur asing,” jelas Gidion.
Namun, masalah pemerataan belum terpecahkan.
Ketua Umum IDPRO, Hendra Suryakusuma, menyoroti ketimpangan distribusi yang masih berat di Jakarta. Ia menegaskan bahwa kawasan Timur Indonesia sebetulnya punya potensi investasi besar, tapi infrastruktur dasar masih lemah.
“Fiber optik harus diperkuat. Tanpa itu, data center di Timur akan sulit beroperasi optimal,” tegasnya.
Menurut Hendra, pusat data kini bukan sekadar fasilitas penyimpanan, melainkan fondasi dari transformasi digital. “Kehadiran data center adalah hulu dari evolusi digital, mulai dari AI, koneksi perangkat pintar, hingga kota pintar. Semua itu butuh storage, processing power, dan infrastruktur yang kuat,” pungkasnya.
FGD yang digelar Yeto Media Group ini juga menjadi ajang soft launching dua portal baru, landbank.co.id dan infodigital.co.id. (Z-10)