Petugas mengambil sampah yang tersaring penghalang interseptor saat aksi Bersih Satu Bumi Merdeka dari Sampah di aliran Sungai Cisadane, Desa Tanjung Burung, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (27/8/2025). Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Tangerang bersama organisasi lingkungan serta relawan menggelar aksi membersihkan Sungai Cisadane sebagai upaya menjaga kesehatan ekologi sungai dan mengurangi jumlah sampah yang terbawa arus ke laut.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonomi sirkular dipandang sebagai solusi nyata untuk menjawab persoalan sampah plastik nasional. Pendekatan ini menempatkan kemasan pascakonsumsi bukan sebagai akhir produk, melainkan awal dari siklus baru yang bernilai.
“Ekonomi sirkular adalah fondasi penting dalam menciptakan masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” kata VP General Secretary Danone Indonesia Vera Galuh Sugijanto dalam keterangan, Jumat (29/8/2025).
Ia menyebut pengelolaan sampah yang terintegrasi dan kolaboratif tidak hanya memberi manfaat lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi serta memberdayakan masyarakat.
Melalui gerakan #BijakBerplastik, infrastruktur pengumpulan telah berkembang mencakup 100 bank sampah binaan, 11 collection center, 3 TPST, 32 TPS3R, dan 10 mitra recycling business unit.
Ekosistem ini secara kolektif mampu mengumpulkan lebih dari 31.500 ton sampah plastik setiap tahun.
Sejak 1983, inovasi galon guna ulang menekan emisi karbon hingga 83 persen dan mengurangi penggunaan plastik 78 persen. Pengembangan berlanjut dengan AQUA Life yang 100 persen menggunakan material daur ulang dan 100 persen dapat didaur ulang. Saat ini lebih dari 96 persen kemasan AQUA bisa didaur ulang, sementara seluruh produknya telah mengandung hingga 25 persen material hasil daur ulang.
Isu keberlanjutan itu juga disosialisasikan ke komunitas pelari melalui Circularity Tour di Bali pada 22 Agustus 2025. Sebanyak 10 pelari Maybank Marathon diajak mengikuti aksi bersih pantai di Sanur, lalu berkunjung ke fasilitas pengumpulan Bali PET dan pabrik Mambal. Mereka melihat langsung bagaimana botol plastik pascakonsumsi diproses ulang menjadi bahan baru yang bernilai ekonomi.
Lifestyle Content Creator Riski Febri, salah satu peserta, menilai pengalaman ini membuka mata bahwa ekonomi sirkular bukan sekadar teori. Ia menilai industri bisa beroperasi dengan prinsip berkelanjutan, sementara konsumen dapat berkontribusi dengan memilih produk yang bertanggung jawab.
“Kami percaya bahwa ekonomi sirkular adalah salah satu solusi nyata untuk masa depan yang lebih sehat. Oleh karena itu, AQUA tak henti-hentinya mengingatkan masyarakat bahwa kita semua punya peran mulai dari memilih produk yang bertanggung jawab, memilah sampah dengan bijak, hingga menyuarakan pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan,” harap Vera.