
PERSIAPAN parade militer Hari Kemenangan Tiongkok, yang digelar untuk memperingati 80 tahun kemenangan dalam Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok Melawan Agresi Jepang dan Perang Anti-Fasis Dunia, kini hampir rampung.
Hal itu disampaikan Wu Zeke, Wakil Direktur Kantor Kelompok Utama Parade Militer sekaligus perwira senior di Departemen Staf Gabungan Komisi Militer Pusat, dalam sebuah konferensi pers.
Beberapa analis menilai perayaan besar pada 3 September mendatang tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menjadi kesempatan bagi Tiongkok untuk menunjukkan kekuatan militernya.
Namun, Asisten Menteri Luar Negeri Hong Lei menegaskan bahwa pesan utama parade ini adalah komitmen Beijing terhadap pembangunan damai, tekad menjaga kedaulatan dan integritas wilayah dan kemampuan mempertahankan perdamaian dunia.
"Parade tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan tekad Tiongkok yang kuat untuk mengikuti jalur pembangunan yang damai, tekadnya yang kuat untuk menjaga kedaulatan nasional dan integritas wilayah, serta kemampuannya yang kuat untuk mempertahankan perdamaian dunia," kata Hong seperti dikutip Global Times, Jumat (29/8).
Hong menambahkan bahwa dalam hal perdamaian dan keamanan, Tiongkok memiliki catatan yang membedakannya dari negara besar lain.
Sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, negara itu tidak pernah memicu perang, tidak merebut wilayah negara lain dan tidak menjalankan perang proksi. Bahkan, jalan pembangunan damai telah dicantumkan dalam Konstitusi Tiongkok.
Sementara itu, pakar urusan militer Tiongkok, Song Zhongping menilai parade tersebut juga berfungsi sebagai pesan pencegah bagi pihak-pihak yang berpotensi memicu ketegangan di kawasan, termasuk di Selat Taiwan dan Laut China Selatan.
Menurutnya, langkah ini dapat menghalangi tindakan gegabah yang berisiko pada stabilitas regional.
"Tiongkok berkomitmen pada perdamaian dan tidak akan mengambil inisiatif untuk memprovokasi konflik," tambahnya.
Namun, lanjutnya dengan menunjukkan kekuatan yang cukup untuk menaklukkan musuh tanpa pertempuran, Beijing menggarisbawahi bahwa kekuatan adalah landasan perdamaian.
"Ini sebuah cara untuk secara efektif menjaga keamanan nasional dan stabilitas regional," pungkas Song. (I-3)