AHMAD RIDHO
Agama | 2025-08-29 14:28:47

Di tengah memanasnya aksi demo di Jakarta, publik menyoroti bahasa kasar dan sikap semena-mena sebagian pejabat.
Namun, para ulama—khususnya MUI Jakarta Timur dibawah kepemimpinan Kyai Didi turut prihatin, hadir serta terus menghimbau kepada masyarakat agar meredam emosi dan tidak bertindak anarkis, serta mengingatkan pentingnya kesejahteraan dan keselamatan bersama anak bangsa.
Pejabat Publik, Etika, dan Keteladanan
Dalam situasi bangsa yang sedang penuh dinamika, masyarakat semakin menaruh perhatian besar terhadap perilaku para pejabat publik. Harapan rakyat sederhana: mereka ingin pejabatnya hadir sebagai teladan, bukan justru menampilkan sikap semena-mena atau menggunakan bahasa yang tidak pantas.
Contoh nyata terlihat dari sorotan masyarakat terhadap sikap politikus seperti Sahroni, yang dinilai kerap mengeluarkan pernyataan dengan bahasa kurang etis. Hal ini jelas menimbulkan ketidaknyamanan publik, bahkan memicu ketidakpercayaan. Seorang pejabat negara seharusnya mampu menjaga tutur kata, menenangkan keadaan, dan memberi contoh bagaimana perbedaan bisa dihadapi dengan kepala dingin.
Masyarakat menilai perilaku arogan dan kasar dari pejabat publik adalah hal yang tidak layak ditiru. Sikap demikian hanya akan memperlebar jarak antara rakyat dan wakilnya, sekaligus merusak marwah lembaga yang mereka duduki. Apalagi di tengah situasi politik dan sosial yang rawan gesekan, komunikasi publik yang bijak menjadi semakin penting.
Berbanding terbalik, para ulama justru hadir sebagai peneduh. Mereka menjaga agar umat tidak mudah tersulut emosi, mengingatkan pentingnya kesabaran, dan mendorong agar aspirasi disampaikan dengan cara yang bermartabat. Khususnya ulama MUI Jakarta Timur terus menghimbau masyarakat, agar tidak bertindak anarkis, sekaligus menekankan pentingnya kesejahteraan dan keselamatan bersama seluruh elemen masyarakat.
Di tengah memanasnya gelombang demonstrasi di Jakarta, suara ulama menjadi penyeimbang—mencegah api amarah masyarakat berkobar lebih besar. Bangsa ini sejatinya membutuhkan lebih banyak teladan, bukan provokator.
Kyai Didi berharap Pejabat publik sudah seharusnya mencontoh sikap menyejukkan, bijaksana dalam tutur kata, adil dalam kebijakan, dan rendah hati dalam menjalankan amanah rakyat. Jika pejabat terus bersikap semena-mena, maka kepercayaan publik akan semakin terkikis. Namun jika mereka hadir dengan ketulusan, etika, dan kepemimpinan yang menenangkan, maka rakyat akan kembali percaya bahwa pejabat benar-benar bekerja untuk kepentingan bangsa, bukan kepentingan pribadi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.