Orang-orang Harus Dibangunkan

2 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ribuan ojek online (ojol) mengantar jenazah driver ojol Affan Kurniawan yang tewas dilindas rantis polisi di TPU Karet Bivak, Jakarta, Jumat (29/8/2025). Foto: Hedi/kumparan

Korban jatuh sudah. Lagi dan lagi. Affan Kurniawan (21), pengemudi ojol (ojek online), pada malam Jumat pahing, 28 Agustus 2025.

Semalaman saya tak bisa tidur. Affan tewas terlindas rantis (kendaraan taktis) berlapis baja milik aparat negara yang sedang bertugas “mengamankan” warga negara yang tengah menunaikan haknya: berunjuk rasa.

Affan adalah tulang punggung keluarga, tinggal di kawasan padat Jatipulo. Oleh warga sekitar, Affan dikenal sebagai sukarelawan keamanan. Adik terkecil yang ditanggungnya baru kelas III SMP.

Subuh tadi, seorang kolega Tionghoa pegiat sosial membagi pesan pilu: ”Seharusnya sedang kuliah, Affan memutuskan berhenti untuk membiayai keluarganya dengan menjadi pengemudi ojol. Jadi, Affan ini benar-benar contoh nyata dari gagalnya negara di berbagai sektor, mulai sektor pendidikan, lapangan kerja, sampai kepolisian.”

Ini ironi yang memilukan. Affan dan keluarganya pastilah pembayar pajak. Ia bagian dari pihak yang mengongkosi seluruh biaya sarana-prasarana institusi kepolisian: alutsista—senjata, peluru, dan gas air mata berlimpah meski masa pakainya kerap kedaluwarsa; gedung dan kantor kepolisian yang megah, gaji, pakaian (termasuk celana dalamnya), tanda pangkat yang gagah, hingga rantis yang semalam berlumuran darah pembelinya itu.

Polisi berjaga di aksi unjuk rasa depan Gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis (28/8/2025). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Suasana batin rakyat belum juga kering dari ingatan akan tragedi Stadion Kanjuruhan 2022, sinetron Jenderal Sambo yang membunuh anak buahnya, hingga petualangan Jenderal Tedy Minahasa yang nyambi jadi bandar narkoba ketika menjalankan tugas-tugasnya sebagai Kapolda. Belum lagi riuh rendah bagaimana institusi kepolisian dipelesetkan jadi Parcok (Partai Coklat) karena dijadikan mesin atau perabot pemenangan pemilu.

Campur aduk perasaan kita demi melihat perilaku aparat yang seharusnya menjadi garda terdepan pelindung dan pelayan, tapi malah jadi beban negeri dan cenderung memosisikan diri sebagai public enemy (baca: melawan bangsa sendiri).

Kita semua jadi jatuh sedih dibuatnya. Marah. Geram. Misuh-misuh. Prihatin. Bahkan tak sedikit yang sampai frustrasi.

Respons pimpinan Polri, sebagaimana adatnya, adalah mengusut dan menindak anak buah yang notabene personel berpangkat rendah alias hidupnya pas-pasan. Mereka dinilai melanggar protap (prosedur tetap). Direksi dari sentra kekuasaan pun standar-standar saja. Normatif sekali: usut siapa yang bersalah, proses secara hukum, seadil-adilnya, bla-bla-bla.

Wahai, tak pernahkah Tuan-Puan luangkan waktu barang sejenak untuk berkaca, berefleksi, lalu mencari tahu: (si)apakah biang kerok atau root cause ‘akar penyebab’ dari ini semua?

Pengunjuk rasa melakukan aksi di depan Markas Komando (Mako) Brimob Polda Mtero Jaya, Kwitang, Jakarta, Jumat (29/8/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Izinkan saya berseru: “Ini bukan semata pelanggaran protap. BUKAN!”

Soal protap mungkin benar telah dilanggar, dan karena itu perlu ada tindakan disiplin. Tapi, soal yang muncul terus-menerus berkaitan dengan perilaku dan kultur kekuasaan. Sudah cukup lama kultur dan perilaku kekuasaan mengakumulasi penyakit yang menggerogotinya.

Kekuasaan yang tanpa cek-ricek, kekuasaan yang tidak diurus oleh pribadi-pribadi amanah lagi cakap, kekuasaan yang dibagi-bagi hanya seputar “antarkita”, kekuasaan yang mengabdi pada kerabat dan keluarga, kekuasaan yang dibangun secara tersentral, itu semua adalah kekuasaan yang sedang dibangun menuju titik self-destruction, penghancuran diri sendiri.

Di tangan Presiden Joko Widodo—saya tulis ini semata-mata demi koreksi institusional, sama sekali bukan karena ketidaksukaan personal—kultur dan perilaku kekuasaan diwarnai oleh praktik-praktik yang mengarah pada sentralisasi, adu domba antar-kelompok warga, penuh tipu-tipu, manipulatif. Di tangan Pak Jokowi dan makhluk-makhluk brengsek di sekitarnya, kekuasaan yang semula merupakan titipan/amanat suci warga negara, telah berubah jadi bengis, berlumuran praktik KKN, diabdikan pada kerabat dan kepentingan keluarga, merusak tatanan hukum, abai etika, serta membuang jauh-jauh etik malu dan kepatutan bernegara.

MK dirudapaksa. Mereka pun memeras pengusaha, yang dengan uang itu, dibayarlah para pendengung, dibayarlah tukang survei perusak demokrasi, dan dilumpuhkanlah organisasi-organisasi sosial. Sejumlah aktivis mahasiswa calon pengestafet bangsa sampai diijon dan d...

Read Entire Article