
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memastikan seluruh kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) di Provinsi Banten, termasuk di Kota Tangerang Selatan, berjalan lancar.
Masalah penutupan akses ke sekolah oleh warga telah diselesaikan melalui koordinasi lintas pihak.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan bahwa informasi mengenai sekolah yang tidak bisa menggelar MPLS karena diblokir tidak benar.
“Jadi informasi yang beredar di media sosial bahwa ada sekolah yang diblokir tidak bisa MPLS, itu tidak benar,” jelas Mu’ti.
“Sudah semuanya kita selesaikan, malam sebelum pelaksanaan MPLS, tim kami semuanya turun ke lapangan di SMA Negeri 3, SMA Negeri 6, SMA Negeri 8, SMA Negeri 10. Semua sudah terselesaikan dan Alhamdulillah ini berjalan dengan lancar,” kata Mu’ti saat ditemui di SMAN 39 Jakarta, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (16/7).
Mu’ti juga menyebut akan meninjau langsung sekolah-sekolah di Tangerang Selatan dalam waktu dekat.
“Mungkin kalau ada waktu besok saya akan meninjau ke sana, yang di Tangerang Selatan. Kebetulan dekat rumah jadi bisa nanti,” jelas dia.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah Kemendikdasmen Gogot Suharwoto menegaskan seluruh sekolah di Banten telah melaksanakan MPLS sesuai jadwal. Meskipun, ada satu sekolah yang sempat melaksanakan daring pada hari pertama.
“Jadi di hari pertama, semua sekolah di Provinsi Banten SMA sudah melakukan MPLS. Jadi tidak ada gangguan MPLS. Hanya ada satu sekolah yang daring di hari pertama, hari kedua,” ujar Gogot.
“Selasa kemarin kita sudah pastikan mereka MPLS dan kita sudah punya foto-fotonya. Penggembokan sudah dibuka, koordinasi dengan pihak kepolisian, dan sekolah, dan dinas perlindungan provinsi,” tambahnya.
Sebelumnya, sejumlah sekolah di Kota Tangerang Selatan, Banten, sempat mengalami penutupan akses oleh warga pada Senin (14/7). Aksi tersebut dilakukan karena warga merasa dirugikan akibat anak mereka tidak diterima di sekolah yang diinginkan.
Salah satu kasus terjadi di SMAN 6 Tangerang Selatan. Saat itu, gerbang utama sekolah dirantai oleh warga, sehingga murid dan guru terpaksa masuk melalui jalur alternatif di kawasan permukiman.