REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Gelombang aksi demonstrasi yang terjadi pada Kamis (28/8/2025) menimbulkan korban jiwa yaitu seorang pengemudi ojol bernama Affan Kurniawan (21 tahun). Bentrokan antara aparat dan massa membuat situasi berujung ricuh.
Gas air mata ditembakkan ke berbagai arah. Aksi kekerasan pun tak terhindarkan. Kekerasan ini memicu kemarahan publik. Di berbagai platform media sosial, warganet ramai-ramai menyebarkan kondisi yang membuat memunculkan amarah. Menariknya, unggahan-unggahan itu banyak diiringi dengan musik yang punya muatan emosional dan politis kuat.
Untuk mengenang korban jiwa dalam aksi tersebut, banyak unggahan di media sosial menggunakan lagu "Ibu Pertiwi" yang dinyanyikan oleh Carol Kuswanto dan Pepita Salim. Lagu yang menggambarkan bentuk cinta kepada sang "Ibu Pertiwi" yaitu negara Indonesia dipilih sebagai simbol duka mendalam.
Dalam potongan liriknya tertulis, “Ku lihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang” menunjukkan kondisi di Indonesia yang tidak baik-baik saja. Meskipun begitu “Ibu, kami tetap cinta, putramu yang setia, menjaga harta pustaka, untuk nusa dan bangsa” potongan lirik ini menggambarkan situasi rakyat yang terus memperjuangkan perubahan.
Selain lagu itu, lagu lain yang juga banyak digunakan adalah lagu "Gugatan Rakyat Semesta" dari band .Feast. Berdiri sejak 2013, .Feast beranggotakan Daniel Baskara Putra (vokal), Adnan Satya Nugraha Putra (gitar), Dicky Renanda Putra (Gitar), Fadli Fikriawan Wibowo (bas), dan Adrianus Aristo Haryo (drum).
Mereka dikenal dengan lagu-lagunya yang lantang membicarakan berbagai keadaan. Lirik pada lagu mereka dibuat konsisten dengan kondisi yang terjadi sebenarnya di masyarakat.
Dengan nuansa rock yang menghentak dan lirik yang penuh amarah, "Gugatan Rakyat Semesta" sendiri dirilis pada 2022, sebuah lagu yang menggambarkan perjuangan rakyat untuk menggulingkan jajaran pemerintahan. Lirik lagu ini dibuka dengan seruan, “Rapatkan barisan, petir di kepalan tangan”, yang melambangkan semangat persatuan dan kesiapan rakyat untuk melawan. Potongan lirik lain seperti, “Sudah siapkah kau tuk ciptakan esok hari?, kau kepung kastil yang berpura-pura peduli”, mengisyaratkan gerakan rakyat saat melakukan demonstrasi terhadap penguasa yang hanya berpura-pura memperhatikan rakyat.
Baris berikutnya, “duduki atap hijau dan mereka kabur lari”, menyiratkan dimana para penguasa kabur tidak ingin mendengarkan aspirasi rakyat.
Puncaknya, lagu ini menyerukan perlawanan melalui lirik, “Tunjukkan bahwa kaulah yang punya kuasa. Tunjukkan gemuruh gugatan Rakyat semesta”. Bagian ini menegaskan pesan utama bahwa kekuatan sejati ada di tangan rakyat, bukan pada segelintir penguasa.
Fenomena penggunaan musik ini memperlihatkan bagaimana masyarakat tidak hanya melawan lewat jalanan, tetapi juga menyuarakan perasaan mereka di ruang digital. Lagu .Feast mewakili amarah, sedangkan "Ibu Pertiwi" melambangkan kehilangan. Keduanya menjadi medium ekspresi rakyat yang sedang berduka sekaligus marah terhadap situasi politik dan sosial di Tanah Air. Musik menjadi suatu elemen seni yang digunakan sebagai bahasa universal yang mampu mengartikulasikan emosi ketika kata-kata saja tidak cukup.