
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi meminta agar para penggiling gabah mempertimbangkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras pada saat membeli.
Sebelumnya, pengusaha penggilingan merasa harga gabah terlalu tinggi sebagai penyebab naiknya harga beras. Saat ini pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kg.
“Jadi tolong dalam membeli gabah juga melihat, mempertimbangkan, sampai di batas mana supaya HET itu tidak terlampaui,” ujar Arief kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Kamis (17/7).
Padahal dengan kondisi produksi beras saat ini, Arief melihat seharusnya harga beras di tingkat konsumen tak mengalami kenaikan. Justru harga beras seharusnya mengalami penurunan.
Untuk saat ini berdasarkan panel harga pangan Bapanas per Kamis (17/7) rata-rata harga beras premium ada pada angka Rp 16.042 per kg atau masih di atas HET Rp 14.900.
Sementara untuk beras medium rata-rata harganya ada pada Rp 14.286 per kg atau masih di atas HET Rp 12.500 per kg.
Jika dibandingkan hari sebelumnya pada Rabu (16/7), harga beras premium mengalami penurunan Rp 37 atau 0,23 persen dan harga beras medium turun Rp 71 atau 0,49 persen.
“Saya sudah melihat ada penurunan harga beras. Penurunan harga beras itu maksudnya apabila, harusnya kalau produksinya versus last year itu kita kelebihan 3 juta ton,” kata Arief.
Untuk saat ini, Arief juga menjelasan stok beras Bulog masih ada di 4,2 juta ton dan akan dipakai untuk intervensi.
“Dan kita juga akan melihat pergerakan harga, harga gabah juga sudah mulai tinggi, itu juga artinya waktunya kita melakukan intervensi. Jadi stok yang kita punya 4,2 juta itu, kita gunakan untuk melakukan intervensi. Sekarang waktunya,” ujarnya.
Bapanas juga sudah mengucurkan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui Perum Bulog untuk periode Juli hingga Desember 2025.
Penugasan ini tertuang dalam Surat Kepala Bapanas Nomor 173/TS.02.02/K/7/2025 tertanggal 8 Juli 2025, dengan target penyaluran sebesar 1.318.826.629 kilogram (1,3 juta ton) beras dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) ke seluruh wilayah Indonesia.