
Antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, kian parah. Pada Kamis (17/7) terpantau antrean mengular sepanjang 23 kilometer, membentang dari pintu masuk pelabuhan hingga Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo.
Penumpukan kendaraan ini merupakan imbas dari penundaan operasional sejumlah kapal eks Landing Craft Tank (LCT) yang biasa beroperasi di lintas Ketapang-Gilimanuk. Operasional mereka ditunda sementara, karena ada uji kelaikan dan keamanan oleh pemerintah.
Tapi, kebijakan ini diprotes oleh Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Banyuwangi.
"Pada prinsipnya kami dari Gapasdap mendukung kebijakan pemerintah untuk peningkatan performa kapal. Tapi sebaiknya tidak dilakukan sekaligus. Harusnya bertahap agar kemacetan seperti hari ini bisa diminimalkan," ujar Ketua Gapasdap Banyuwangi, Nurjatim.
Sebab, kebijakan ini membuat antrean parah selama 2 hari di Banyuwangi. Nurjatim khawatir, jika tak ada kebijakan lanjutan, antrean kendaraan makin menumpuk.
Sopir Terjebak, Logistik Terhambat
Dampak kemacetan ini sangat dirasakan oleh para sopir dan pengguna jalan. Slamet Barokah, Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), menyebut kemacetan sudah mencapai Desa Alas Buluh, Wongsorejo. Ia menyoroti perilaku pengendara yang saling mendahului di luar pelabuhan meski area dalam pelabuhan terlihat lengang.

"Sampai Alas Buluh saat ini kemacetannya, pelabuhan di dalam lengang tapi macet di luar karena saling mendahului bus dan truk dan mobil pribadi itu," terang Slamet, saat dikonfirmasi Kamis siang.
Slamet mengimbau armada logistik yang belum memasuki wilayah Banyuwangi untuk menunda perjalanan agar tidak memperparah kepadatan.
Penderitaan akibat macet juga dialami warga Banyuwangi. Wahyu (26), mengaku terjebak selama 12 jam di Bangsring. Ia yang dalam perjalanan pulang dari Surabaya seharusnya sudah tiba di rumah pada Rabu malam, namun hingga Kamis pagi masih terjebak kemacetan.
"Saya dari jam 10 malam tadi ada di sini dan sampai jam segini saya masih di Bangsring ini tidak bergerak," keluhnya.
Solusi Bertahap dan Prioritas Logistik
Meski demikian, Nurjatim mengapresiasi langkah cepat pihak pelabuhan dalam mengevaluasi situasi. Ia telah menerima informasi bahwa sejumlah kapal akan segera diperbantukan kembali untuk membantu mengurai kemacetan.
Gapasdap berharap, proses pemeriksaan kapal eks LCT bisa dipercepat agar segera beroperasi kembali mengingat peran pentingnya dalam kelancaran arus logistik.
"Harapan kami, temuan-temuan minor bisa menjadi pertimbangan. Kami siap berbenah secepat mungkin supaya masalah ini tidak berkepanjangan," tambah Nurjatim.
Gapasdap juga mendukung kebijakan pembatasan kapasitas muatan kapal maksimal 75 persen, terutama mengingat kondisi cuaca ekstrem.
"Saya sangat setuju dengan pembatasan 75 persen. Cuaca masih kurang kondusif, jadi kami juga sejak awal sudah menginstruksikan operator agar jangan memaksakan muatan," jelas Nurjatim.
Selain itu, Gapasdap menyambut baik rencana pengaturan dermaga yang dikhususkan untuk angkutan logistik.
"Kami siap jika kendaraan penumpang dialihkan ke dermaga Moveable Bridge (MB). Kami sepakat dermaga LCM difokuskan untuk kendaraan logistik," pungkasnya.